Breaking News
Loading...
Sunday, July 17, 2016

"Energy for Nation" Community Forum with Energy Nusantara

1:09:00 AM


Pada tanggal 20 Juni 2016, FORGI FTUI diundang oleh Energy Nusantara untuk menghadiri acara "Energy for Nation" Community Forum - Ngabuburit Energi, Ramadhan Breakfasting 2016. Acara ini merupakan diskusi tentang isu terkini mengenai energi terutama mengenai proyek Blok Masela yang juga dihadiri oleh beberapa perwakilan dari perusahaan ternama di bidang energi.

Energy Nusantara merupakan komunitas yang berawal dari komunitas platform social media. Pada perkembangannya, Energy Nusantara berkembang menjadi komunitas yang rutin melakukan kegiatan bersama Pemerintah. Sebagai komunitas energi terbesar di Indonesia, Energy Nusantara melakukan jajak pendapat melalui kuesioner online mengenai proyek Blok Masela. Kuesioner ini berisikan opini public mengenai kelanjutan proyek Blok Masela untuk masa depan yang berpedoman pada langkah-langkah yang diambil oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 23 Maret 2016 dimana pabrik LNG akan dibangun secara onshore. Berikut merupakan hasil dari kuesioner online yang dihasilkan:



Gambar 1. Grafik Hasil Polling Blok Masela


Secara ringkas, hasil polling kuesioner menunjukkan bahwa:
  • Mayoritas responden menginginkan adanya perusahaan lokal seperti pertamina yang ikut andil dalam proyek ini.
  • Responden tidak setuju bahwa onshore akan mempercepat proyek. Bapak Sudirman Said juga sangat meyakini bahwa pengerjaan proyek offshore pada proyek ini akan lebih cepat karena dalam prosesnya tidak memakan waktu lama untuk hal-hal seperti pembabatan hutan dan sebagainya.
  • Sebagian dari responden masih ragu jika proyek yang dilakukan pada onshore bisa menghemat cost dikarenakan jumlah orang yg terlibat cukup banyak.
  • Mayoritas responden setuju jika onshore menghasilkan multiplier effect yang lebih banyak dibandingkan dengan offshore.
  • Mayoritas responden setuju jika onshore lebih daulat dan mandiri energi.
  • Mayoritas responden setuju dampak lingkungan  yang ada lebih terjaga apabila proyek dilakukan secara onshore.
  • Mayoritas responden sangat setuju apabila proyek offshore mampu meningkatkan pembangunan industry maritime yang lebih baik.
  • Masyarakat setuju apabila mekanisme 10% participating interest tidak melibatkan asing.
  • Mayoritas responden sangat setuju Pertamina terlibat dalam proyek ini.

Berikut adalah ringkasan hasil diskusi panel mengenai beberapa isu energi di Indonesia:

Pembicara        : Dr. Agung Wicaksono (Wakil Ketua UP3KN)
Tema               :  35000 MW Untuk Indonesia

Pada proyek ini Pemerintah menargetkan adanya peningkatan rasio elektrifikasi pada tahun 2019 menjadi 97,4 % dari rasio tahun 2015 sebesar 87,7%. Dengan melakukan investasi sebesar $72,9 M untuk proyek ini, akan memberikan beberapa multiplier effect seperti 291 pembangkit listrik, 732 transmisi, 1375 unit gardu, 301300 km alumunium conductor, 2600 set trafo, dan 3,5 juta ton baja dengan jumlah orang yang terlibat secara langsung sebanyak 650000 orang dan 3 juta orang yang terlibat secara tidak langsung.
Besarnya proyek ini tidak akan luput dari beberapa kendala dan hambatan. Untuk itu, UP3KN dalam hal ini berperan mengatasi hambatan pada proyek 35 GW. UP3KN membentuk sebuah birokrasi untuk memonitor dan melancarkan proyek 35 GW ini. Hambatan yang cukup besar dihadapi proyek ini adalah pembebasan lahan.

Pembicara        : Danny Praditya (Direktur PT Perusahaan Gas Negara)
Tema               : Penyiapan Infrastruktur 30% gas, Mekanisme Harga, Tata Kelola

Pada setiap industri, sektor pembangkit listrik merupakan sektor terbesar yang dibutuhkan pengguna pada industry dibandingkan dengan transportasi, dan lain-lain. Dengan adanya proyek ini pasti kebutuhan suplai listrik untuk industry dan masyarakat akan sangat menjamin kehidupan. Untuk itu diperlukan supply demand yang harus menjadi dasar dari tata kelola dan pengembangan infrastruktur. Infrastruktur yang ada juga harus terintegrasi.
Pada tahun 2020 Indonesia harus melakukan impor gas bumi, namun pada kenyataannya pada tahun 2016 saja penjualan gas sulit. Selain itu, Indonesia juga memiliki beberapa kendala seperti berapa banyak cng yang akan dibutuhkan pada proyek ini, berapa banyak pipeline yang dibutuhkan, dan lain-lain namun hal tersebut tidaklah match dengan adanya keterbatasan waktu. Untuk itu, PGN dalam hal ini ingin mengembangkan kemandirian energy dalam hal keterlibatan gas supaya perencanaan proyek ini bisa terintegrasi dengan baik. Indonesia butuh sekitar 1000 mm-2000 mm yang bisa dijadikan basis infrastruktur.
PGN berharap gas bisa menjadi bahan bakar pilihan dimana produksi kita dapat memenuhi kebutuhan. Tahun 2023 direncanakan minyak dan gas bumi bisa dikontrol lebih baik lagi sehingga gas bisa dijadikan sebagai BBM pilihan.

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer