Breaking News
Loading...
Monday, June 13, 2016

Kajian I Divisi Gas FORGI FTUI 2016: Persiapan Pengembangan Blok Masela Pasca Putusan Pembangunan Kilang Gas di Darat

10:01:00 PM
            Pulau Marsela adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Timor dan berbatasan dengan negara Timor Leste / Australia. Pulau Marsela ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah kabupaten Maluku Barat Daya, provinsi Maluku. Pulau ini berada di sebelah timur dari negara Timor Leste dengan koordinat 8° 12′ 29″ LS, 129° 49′ 32″ BT. Pulau Marsela mempunyai Sumber daya Alam terbesar no. 2 di Dunia yakni Blok Migas Marsela atau lebih dikenal dengan sebutan Blok Masela.

          Sumber 1. Inpex Ltd.

         Ditaksir oleh PT. Badak NGL, cadangan gas yang terkandung di Bumi Masela sebesar 10,73 TCF.  Data lain dari PoD (Plant of Development) yang dipublikasikan oleh kontraktor Asal Jepang, Inpex Ltd., cadangan gas di Blok Masela volumenya ditaksir sebesar 11.8 TCF (by volumetric calculation) dan luas nya mampu menutupi sebagian besar wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Lain lagi versi pemerintah, melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, cadangan gas di Blok Masela ditaksir sebesar 27.6 TCF (Proven Reserves 1 by Volumetric Calculation). Melimpahnya cadangan gas ini diprediksi mampu menjaga ketahanan energi di Indonesia hingga 70 tahun ke depan.

            Sebelumnya, sempat terjadi perdebatan terkait skema pembangunan kilang  yang akan digunakan oleh kontraktor. Pada akhirnya, Presiden RI memutuskan untuk membangun kilang di Darat dengan harapan timbulnya multiplier effect demi pembangunan di Wilayah Indonesia Timur khususnya di Kawasan Maluku. Menurut Tenaga Ahli Bidang Energi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Dr. Haposan Napitupulu, perlu adanya perubahan paradigma dari “tebang, keruk, sedot, dan ekspor” menjadi “sustainable development” dalam mengelola sumber daya alam, khususnya di Blok Masela. 

            Dalam Seminar Forum Energi FTUI pada hari Selasa (17/6), Dr. Haposan memaparkan bahwa dengan dibangunnya Kilang di Darat, dapat memicu lahirnya industri-industri baru di Maluku, salah satu industri yang potensial adalah industri petrokimia. Dari data kalkulasi Kementerian Perindustrian, diperkirakan sejumlah 362.296 personel dibutuhkan yang bersumber dari pengolahan methanol, polipropilen, polietilen, keramik, kaca, dan rumput laut. Angka tersebut menunjukkan ketersediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di daerah tersebut. Sebab itu, Pemerintah bekerja sama dengan instansi pendidikan terkait serta pemerintah daerah mempersiapkan  warga Maluku khususnya yang sedang mengenyam pendidikan guna berperan langsung dalam mengelola kekayaan yang dimiliki kampung halamannya.

            Dari sudut pandang praktisi, Pemerintah dirasa perlu memberikan ketegasan kepada pihak kontraktor dalam menyusun PoD yang dituliskan dalam bentuk Kerangka Acuan Kerja (KAK) dalam menjaga paradigma yang baru. Menurut Ir. Yoga P. Suprapto, IPU., Ketua Majelis Penilai Insinyur Profesional Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK PII) dan juga merupakan CEO Fellow Consultant dari Rinder Energia – Energy, Oil, & Gas Consultant, KAK tersebut selayaknya disampaikan atau dilampirkan dalam penyampaian Keputusan Pemerintah tentang Masela LNG Darat ke Pihak Kontaktor dan dibentuk tanpa mengabaikan keekonomian dari Kontraktor.

            Dari aspek teknis, Bapak Salis S. Aprilian selaku Presiden Diretur dan CEO PT. Badak NGL menjabarkan bahwa dalam proses pembangunan kilang terdapat beberapa tahap yang mempengaruhi satu sama lainnya, yaitu : (1) Reserve Verification, (2) Feasibility Study, (3), Plan of Development, (4) Final Investment Decision, (5) Front End Engineering Design, (6) Engineering Procurement Construction Commissioning, dan (7) Operation. Beliau juga menilai dalam proyek pengembangan Blok Masela selanjutnya diharapkan Pemerintah dapat membentuk suatu badan hukum, seperti otorita batam, sebelum masuk ke aspek yang lebih teknis guna mempersiapkan regulasi, kepemilikan tanah, dan lokasi geografis. Pun dalam pengelolaan ekplorasi gas di Blok Masela nantinya, sebagai salah satu energy company yang menjadi rujukan perusahaan-perusahaan dunia dalam mempelajari pengelolaan gas, Bapak Salis memperkenalkan konsep Floating Compressed Natural Gas (FCNG), kombinasi Aset Badak LNG dengan kilang LNG di daratan Blok Masela.

Sumber 2. PT. Badak NGL

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer