Breaking News
Loading...
Monday, June 13, 2016

Kajian I Divisi Surya FORGI FTUI 2016: Dye-Sensitized Solar Cells by Using Natural Local Resources for Energy Alternative Development

10:00:00 PM

Pembicara memaparkan tentang energy yang digunakan di Indonesia saat ini. Dari fakta-fakta yang disampaikan, terlihat bahwa energy surya merupakan salah satu energi terbarukan yang ideal diterapkan di Indonesia yang beriklim tropis dibandingkan dengan energi terbarukan lainnya seperti angin, gelombang laut dan air. Beliau juga memulai diskusi dengan membahas bahwa dengan terlalu bergantung pada energi fosil akan menyebabkan Indonesia akan terlalu bergantung pada pihak asing. Saatnya Indonesia bisa mengandalkan sumber daya terbarukan menggunakan potensi alam yang ada di Indonesia.

Jika pada umumnya sel photovoltaic yang digunakan pada panel surya merupakan sebuah wafer dari silicon, didoping menjadi silicon tipe p dan silicon tipe n yang dihubungkan bersama-sama, ada juga sel photovoltaic terbuat dari TiO2 yang diwarnai dengan zat warna alami. Analogi yang digunakan adalah tumbuhan yang dapat menghasilkan energy menggunakan zat warna klorofil memanfaatkan energy matahari. Kini, prinsip yang sama juga dapat diterapkan untuk listrik.

            Diskusi kali ini difokuskan untuk membahas sel photovoltaic yang terbuat dari TiO2 dan zat warna alami. Zat warna yang digunakan disebut anthocyamin. Sel photovoltaic merupakan divais yang berfungsi untuk mengubah energi foton yang diberikan oleh matahari menjadi energi listrik. Prinsip kerja dari sel photovoltaic ini sendiri adalah dapat mengeksitasi electron valensi ketika menerima energi dari foton, sehingga ada arus listrik yang dapat mengalir.

Pada sel photovoltaic yang terbuat dari TiO2 dan zat warna alami ini, efisiensi yang dihasilkan masih 14%. Jika dibandingkan dengan sel photovoltaic berbasis silicon yang mempunyai efisiensi sekitar 21%, tentu masih sangat jauh untuk bisa diterapkan. Namun hal ini disebabkan karena pengembangan sel photovoltaic berbasis zat warna ini masih sangat baru, sedangkan silicon sudah lama dikembangkan.

Sebuah sel photovoltaic mempunyai umur jangka waktu untuk dapat menghasilkan energi listrik. Jika sudah habis umurnya, maka sel photovoltaic tersebut akan dibuang. Alasan mengapa menggunakan sel photovoltaic berbasis zat warna di Indonesia, karena sifatnya yang ramah lingkungan. Karena dibuat dari ekstrak alami, maka penguraian dari sel ini juga dapat dilakukan dengan mudah oleh alam. Jika terbuat berbasis sintesis seperti silicon yang banyak digunakan saat ini, sifatnya kurang ramah lingkungan sehingga tidak bisa diuraikan oleh alam.
Berbagai tumbuhan sudah diujicoba oleh pembicara untuk dikembangkan sebagai sel photovoltaic alami. Diantaranya ada buah naga, stroberi dan juga manggis. Untuk buah naga dan stroberi, tentu masih agak sulit dijadikan sebagai sel photovoltaic karena akan bersaing dengan industry makanan dan minuman yang membutuhkan buah-buah tersebut. Sedangkan untuk manggis, yang digunakan hanyalah kulit dari manggis itu sendiri. Ekstrak dari kulit manggis tidak digunakan oleh industry lain, sehingga ideal untuk diimplementasikan sebagai sel photovoltaic dari pembangkit listrik tenaga surya.

Pembicara menyimpulkan bahwa sel surya berbasiskan zat warna alami cukup ideal untuk diimplementasikan di Indonesia, mengingat banyak tumbuh-tumbuhan yang punya potensial untuk dijadikan sebagai sel photovoltaic. Namun sebagai peneliti, tugas beliau hanya cukup sampai bidang kajian penelitian. Untuk dipatenkan dan dikembangkan lebih lanjut sehingga bisa diimplementasikan di banyak tempat, perlu dukungan dari pemerintah dan swasta. Sangat memungkinkan sel photovoltaic berbasiskan zat warna natural mempunyai efisiensi yang lebih besar daripada silicon apabila dikembangkan lebih lanjut.

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer