Breaking News
Loading...
Saturday, October 11, 2014

Pola Pikir Negatif Atas Nuklir Harus Diubah

3:14:00 AM
Pola pikir masyarakat yang negatif terhadap nuklir harus diubah. Masyarakat harus terus diedukasi bahwa nuklir memiliki manfaat untuk sumber listrik di masa depan seiring dengan semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil seperti minyak bumi. Anggota Dewan Penasehat Pengkajian Energi Universitas Indonesia Iwa Garniwa mengatakan tugas edukasi untuk mengubah konotasi negatif masyarakat terhadap nuklir tersebut tidak hanya terletak pada Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) tetapi juga semua elemen pemerintah.

"Kita membutuhkan energi sekitar 4000 Mw per tahun dengan pertumbuhan tujuh persen di Jawa dan 12 persen di luar Jawa. Dengan kebutuhan sebesar itu mau pakai apa, bahan bakar dari fosil atau energi terbarukan," katanya di sela-sela executive forum bertema Menunggu Keberanian Pemerintah Mengatasi Krisis Energi, di Jakarta, Kamis (2/9).


Namun menurutnya, digenjotnya energi fosil untuk memasok ketersediaan energi yang terjangkau tidak bisa terus menerus dilakukan. Sebab sumber energi tersebut akan habis. Pola pikir masyarakat bahwa Indonesia kaya minyak juga harus segera diubah.

"Kita harus siap mencari pengganti sumber energi yang akan habis ini dalam 10 tahun ke depan dengan energi baru terbarukan atau nuklir. Energi nuklir akan menjadi keniscayaan," ucapnya.

Oleh karena itu, mulai sekarang bangsa ini jangan sampai terlambat memutuskan. Kalau tidak diputuskan dari sekarang akan terlambat, dan krisis energi akan lebih parah lagi.

Sebab lanjutnya pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) membutuhkan waktu lama mencapai 8-10 tahun.

Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto mengakui beberapa pemerintah daerah tertarik dan datang ke Batan terkait penyediaan listrik dari PLTN. Namun hal itu harus disampaikan kepada pembuat kebijakan energi. Batan hanya terus mendorong promosi nuklir.

Baru-baru ini lanjutnya International Atomic Energy Agency membuat survei bahwa banyak negara-negara baru yang membangun PLTN seperti Vietnam, Uni Emirat Arab, Bangladesh terlepas dari kejadian reaktor Fukushima di Jepang beberapa waktu lalu.

"Kita tentu mendapat pelajaran dari Fukushima, ketika akan membangun PLTN harus menghindari daerah yang punya potensi gempa besar, tsunami. Daerah Bangka dan Kalimantan merupakan daerah yang potensi gempanya sangat minimal," paparnya.

Di samping itu teknologi nuklir yang digunakan bukan generasi I atau II yang berteknologi lama melainkan generasi III atau III plus yang merupakan teknologi mutakhir sehingga aspek keamanan dan keselamatan terjaga.


0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer