Breaking News
Loading...
Saturday, October 11, 2014

Mimpi Indonesia Jadi Penghasil Listrik Panas Bumi

2:21:00 AM


Ratusan kilometer pipa panasbumi terpasang di bukit Gunung Derajat, Garut, Jawa Barat. Uap panas sengaja dikeluarkan di beberapa titik, untuk mencegah pemuaian pipa.

Puluhan orang dengan memakai kemeja dan sepatu boat kulit terus berkeliling dan melihat kondisi sumur panas bumi yang dikelola Chevron Indonesia.

2025 nanti, pemerintah menargetkan energi baru terbarukan mencapai 40 persen untuk menutupi kebutuhan energi terutama listrik nasional yang saat ini didominasi Bahan Bakar Minyak (BBM). Dengan kondisi Indonesia yang dikelilingi gunung berapi, aktif maupun tidak aktif, membuat potensi panasbumi Indonesia salah satu terbesar di dunia.

Pertumbuhan kebutuhan listrik di Indonesia sangat tinggi mencapai 7 persen per tahun. Sedangkan Ratio elektrifikasi sampai 2013, pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi mencapai 80.5 persen. Cuma Papua dan Nusa Tenggara Timur merupakan dua wilayah dengan rasio terendah Indonesia.

Selain itu, ketersediaan listrik Indonesia masih kalah jauh dengan wilayah Asia Tenggara misalnya, Thailand yang konsumsi listrik masyarakatnya (electricity per capital) mencapai 1.961 kwh per kapital. Sedangkan Indonesia, dengan potensi energi terbarukan yang besar, baru mencapai 591 kwh per kapital.

Posisi Indonesia tidak jauh dari Filipina yang mencapai 524 kwh per kapital. Kondisi saat ini, pembangkit listrik masih didominasi menggunakan bahan bakar fosil yang terdiri batu bara 44 persen, minyak 23 persen, gas 21 persen, hidro 7 persen, panasbumi dan lainnya baru mencapai 5 persen, sehingga membuat bengkak subsidi.

"Kalau mau itu tercapai, mulai hari ini pemerintah harus mengeluarkan izinnya. Karena untuk pengembangan sampai operasi paling cepat butuh 7 tahun," kata General Manager Policy, Government and Public Affairs, Chevron Geothermal and Power Paul E. Mustakim.

Dia mengatakan energi terbarukan (panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, hidro, gerakan dan perbedaan suhu laut) masih mengalami kendala pengembangannya karena konsep perencanaan berdasarkan harga termurah dan beberapa permasalahan seperti ketidak pastianaspek legal, kurangnya koordinasi lintas sektor, kurangnya sumber daya manusia yang berkompeten dan masalah sosial.

Catatan Asosiasi Panasbumi Indonesia, saat ini hanya baru 10 pengembang panasbumi di antaranya, PGE, Chevron Geothermal, MNL/Star Energy, Supreme Energy, Geodipa, Medco Energy, Bakrie Power, Indonesia Power, Rekayasa Industri dan PLN Geothermal. Padahal, potensi panas bumi indonsia diperkirakan mencapai 28.617 MW. Kapasitas terpasang saat ini baru 1.341 MW atau 4,7 persen.

"Diversifikasi energi diperlukan untu meningkatkan ketahanan energi dalam jangka panjang," katanya.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat sedikitnya Indonesia memiliki 299 titik panas bumi yang bisa dikembangkan. Dengan titik lokasi di 58 WK dari Sabang sampai Merauke. Sampai 2015, energi panasbumi diharapkan bisa menyumbang 6.500 megawatt dari target tambahan energi nasional sebesar 9.500 megawatt.

Kementerian ESDM mencatat kapasitas terpasang energi panas bumi yang sudah digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional, diantaranya di Kamojang 200 MW, Darajat 270 MW, Wayang Windu 227 MW, Salak 377 MW, Lahedong 80 MW, Dieng 60 MW, Sibayak 12 MW, Ulumbu 5 MW dan ulubelu 110 MW.

Sumber : www.merdeka.com

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer