Breaking News
Loading...
Saturday, October 11, 2014

Identifikasi Crude Oil pada Proses Pengilangan

2:32:00 AM
FORGI - Terdapat berbagai jenis minyak mentah (crude oil) dengan berbagai macam karakteristik yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Crude oil ini tidak bisa sembarangan diolah. Sebelum crude oil tersebut masuk ke unit pengolahan, harus diidentifikasi terlebih dahulu karakteristiknya agar bisa diolah sesuai dengan konfigurasi kilang yang ada. Berikut ini uraian dari milist Migas_Indonesia tentang identifikasi crude oil sebelum masuk ke refinery unit.


Dalam menentukan apakah suatu crude oil/minyak mentah cocok digunakan untuk suatu kilang, terdapat 3 kelompok sifat yang harus dipertimbangkan :

1. Sifat-sifat untuk menentukan fraksi hydrocarbon :
* API gravity/Specific gravity
* Boiling point/distillation/crude assay (digunakan untuk prediksi yield commercial operation)
* Characterization Factor (K); digunakan untuk mengetahui jenis crude apakah dia Paraffinic, Olefinic, Naphthenic, atau Aromatic
* Molecular Weight

2. Sifat-sifat untuk menentukan penyesuaian dengan metalurgi peralatan yang digunakan di kilang (yang ini digunakan untuk prediksi corrosion rate) :
* Total sulfur
* Hydrogen sulfide
* Salt content
* Acid number (neutralization number)

3. Line sizing dan heat tracing (yang ini digunakan untuk kemampuan hydrolic dan heat transfer) :
* Viscosity
* Pour point

Minyak yang "aromatik", itu kenapa ya? Apakah dari "bau"-nya?

Definisi Paraffinic, Olefinic, Naphthenic, dan Aromatic salah satunya adalah berdasarkan Characterization Factor (K) :
* Paraffinic : 12 – 12.5
* Olefinic : 12.5 – 13
* Naphthenic : 11 – 12 (Asphalt Base)
* Aromatic : 9.5 – 11

Kenapa harus di-blend ?

Untuk grassroot refinery, perhitungan keekonomian & prediksi ketersediaan crude oil selama umur kilang menjadi pertimbangan utama untuk perlu tidaknya blending crude oil. Perhitungan keekonomian bukan saja menyangkut pembelian crude oil tapi juga menyangkut pertimbangan konfigurasi kilang (apakah selain CDU dan catalytic reforming, diperlukan downstream berupa Hydrocracker Unibon, Fluid Catalytic Cracking, Residual Fluid Catalytic Cracking, Delayed Coking Unit, atau Visbraker).

Untuk kilang yang sudah dibangun, maka blending dilakukan dengan maksud untuk :
* Diversifikasi crude oil (agar harga crude tidak dimainkan supplier)
* Mengatasi/mengantisipasi kelangkaan crude oil disain kilang di masa datang
* Keekonomian/margin kilang

Sebagai contoh kilang UP II Dumai, dulu disain crude oil-nya adalah SLC (Sumatera Light Crude), yang termasuk crude sweet dan ringan dan sumbernya sangat dekat dengan Dumai (sumbernya di Minas, 120 km dari Dumai). Namun seiring dengan semakin besarnya gap harga antara crude sweet/ringan dengan crude sour/berat, maka dilakukan evaluasi untuk mencari keekonomian/margin kilang yang lebih baik. Pilihan jatuh untuk mem-blending SLC dengan DCO (Duri Crude Oil) yang merupakan minyak berat namun sumbernya sangat dekat, yaitu di Duri yang berjarak 60 km dari Dumai.

Lalu berapa komposisi SLC:DCO? Apa yang perlu dievaluasi?

Setelah mendapatkan data crude oil DCO (seperti yang telah disebutkan di atas), maka dilakukan perhitungan di atas kertas dengan metode crude break up untuk mengetahui prediksi yield commercial operation. Setelah itu dilakukan evaluasi terhadap dampaknya ke semua unit downstream (baik dampak pengolahan/yield maupun dampak korosi dan hydrolic nya). Pengaruh sangat besar akan terjadi di unit Delayed Coking Unit, karena unit ini adalah unit thermal cracking, sehingga jenis crude yang diolah sangat berpengaruh terhadap waktu operasi Delayed Coking Unit. Makin berat minyak umpan DCU, maka yield green coke/calcined coke akan makin banyak namun residence time di furnace akan makin tinggi (karena viscosity nya makin tinggi). Dengan makin tingginya residence time dan CCR/Conradson Carbon Residue, maka kecenderungan terbentuknya coke pada furnace akan semakin besar, sehingga untuk menghilangkan coke pada furnace diperlukan frekuensi Steam Air Decoking yang lebih sering.

Setelah dilakukan evaluasi secara teoritis/di atas kertas dan dinyatakan dapat dilakukan, baru dilakukan test run alias uji coba lapangan. Berdasarkan evaluasi lapangan, didapat komposisi yang ekonomis untuk blending SLC:DCO sebagai umpan kilang Dumai adalah 85:15.

UP II juga pernah melakukan evaluasi dan test run untuk crude Neil blend dari Nigeria dan Xinjiang dari Cina, namun sampai saat ini masih belum diimplementasikan karena dianggap masih belum ekonomis.

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer