Breaking News
Loading...
Tuesday, October 14, 2014

Gas di Zaman Belanda 1857, Refleksi Kebijakan

4:35:00 PM
Den Haag - Bayangkan kenyamanan ini: mau memasak tinggal pencet, mau mandi air hangat tinggal putar. Pada akhir bulan tinggal membayar tagihan gas sesuai ditunjukkan oleh meteran berapa M3 (meter kubik) penggunaannya. Sebagaimana air dan listrik, gas selalu tersedia di rumah. Standar hidup nyaman ini dinikmati bangsa Eropa saat ini. Di bawah tanah mereka membentang jaringan pipa gas, di samping pipa air, kabel listrik dan kabel komunikasi. Tak ada cerita kerepotan dan pusing mencari tabung gas 3kg atau 12kg atau dipermainkan sebagai obyek spekulasi harga. Kenyamanan serupa lebih dari 1,5 abad lalu telah dipikirkan, dibangun dan dinikmati di Indonesia, zaman Belanda.


1857. Belanda telah membangun gasfabriek (pabrik gas) dari bahan batubara di Pasuruan, Jawa Timur. Langkah ini segera disusul di Batavia, Semarang dan kota-kota besar lainnya (De Oostpost, 2 Juli 1857). Satu setengah tahun kemudian, tepatnya pada 19 November 1859, Menteri Urusan Koloni di Den Haag menerbitkan hak konsesi eksklusif selama 20 tahun untuk memasok energi gas ke rumah-rumah warga dan gedung-gedung pemerintah di Batavia dan kota- kota lainnya (De Oospost, 13 Februari 1860). Pada 1871 telah dicapai kemajuan sebagaimana tercatat berikut ini, "Bijna geheel Batavia is van gasleidingen voorzien/Hampir seluruh Batavia telah dilengkapi jaringan pipa gas," (Bataviaasch Handelsblad, 18 November 1871).

Investasi membangun infrastruktur jaringan pipa gas cair ke rumah-rumah warga itu memang tidak murah. Warga pada awalnya juga tidak serta-merta menyambut antusias karena secara ekonomis dengan beralih dari minyak ke gas waktu itu akan membuat pengeluaran mereka meningkat. "Di sana-sini jaringan pipa gas dipasang ke rumah-rumah; warga Semarang mengambil sikap menunggu. Disparitas harga antara minyak tanah dan gas terlalu besar. Menurut perhitungan sederhana, harga gas sekurangnya dua kali lipat harga minyak tanah, masih belum termasuk biaya penyambungan jaringan pipa gas dan kerugian karena harus menjual lampu-lampu minyak tanah (jual rugi karena telah terpakai, pen)," (De Locomotief, 28/1/1898).

Tapi pemerintah Belanda berpikir jauh ke depan. Pembangunan jaringan pipa gas tetap digalakkan. Di tiap kota dibangun depot (baca: depo), semacam hub untuk mengalirkan gas. Pada masa itu Amerika masih disibukkan oleh dar-der-dor komplotan bandit Billy The Kid dan perang saudara, tapi Belanda di Indonesia sudah sibuk membangun infrastruktur untuk energi baru. Mengenai pembangunan infrastruktur jaringan pipa gas itu tertuang dalam Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No 14 Tanggal 9 Juli 1871 (Lembaran Negara No. 102), satu paket dengan kabel transport (jaringan kabel dari pembangkit listrik ke pelanggan, pen), jaringan pipa air, dan kabel telegraf. Selain Batavia, Bandung, Bogor, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan kota-kota lainnya di Jawa, kota- kota besar di Sumatera dan Sulawesi juga mendapat giliran. Pembaca yang (orangtuanya) pernah menempati rumah lama dengan fasilitas zaman Belanda ini mungkin dapat memberi kesaksian, mengenang masa kecil bagaimana rumah-rumah tersebut telah dilengkapi fasilitas jaringan gas, selain tentu saja listrik, telepon dan 'air leiding' (istilah pada masa itu, kini 'air PAM').

Kini kita telah merdeka untuk mengurus sendiri negara ini, tapi dalam hal infrastruktur dan energi kita seperti mundur. Jaringan pipa gas sebagai urat nadi energi, ibaratnya tinggal memelihara dan meningkatkan, namun sama seperti nasib infrastruktur tram, kini semua musnah, seolah tak pernah ada. Bahkan dari pernyataan para pejabat negara di media jaringan pipa gas ala Eropa itu di Indonesia seolah-olah memang belum pernah ada! Tulisan ini menunjukkan hal sebaliknya. Selain infrastruktur energi, Belanda 1,5 abad lalu sudah memikirkan nilai tambah batubara dengan mengolahnya menjadi gas.


~Eddi Santosa - detikNews

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer