Breaking News
Loading...
Monday, May 26, 2014

Pentingnya Pembangunan Kilang di Indonesia

10:32:00 PM
Oleh : Tulus Setiawan (Teknik Kimia, 2011)

 
FORGI - Di tengah kondisi keterbatasan kilang serta konsumsi BBM yang semakin meningkat, modernisasi kilang dinilai sangat mendesak. Kilang-kilang yang dimiliki Pertamina saat ini rata-rata sudah tua sehingga performanya tidak lagi optimal. Terakhir kali membangun kilang yakni kilang Balongan pada tahun 1990. Rendahnya efisiensi serta biaya operasional yang tinggi mengakibatkan kilang menjadi kurang ekonomis.

Saat ini Pertamina memiliki 6 kilang yang beroperasi dengan kapasitas 1,15 juta barel per hari (bph). Dari total produksi minyak mentah Indonesia sebanyak 820 ribu barel, yang dapat diolah di kilang dalam negeri hanya sekitar 600 ribu bph, sedangkan konsumsi BBM mencapai 1,4 juta bph dan kekurangannya kita impor.

Memang tidak semua produksi minyak Indonesia bisa diolah di kilang dalam negeri. Teknologi kilang Pertamina yang terbatas atau bisa dibilang tertinggal, hanya mampu mengolah jenis minyak sweet crude (kandungan sulfur 0,2%). Bandingkan dengan kilang modern yang teknologinya lebih kompleks yang mampu melahap semua jenis crude, baik itu sweet crude maupun sour crude (kandungan sulfur sekitar 2%). Jika saja mampu mengolah sour crude tentu akan memperoleh keuntungan yang lebih besar karena terdapat selisih harga antara sweet crude dengan sour crude berkitar 5-7 dolar AS per barel.

Kita juga harus jeli melihat. Mungkin produksi crude oil akan tetap tercukupi, namun kemampuan produksi BBM dari kilang belum tentu mampu memenuhi konsumsi. Saat ini neraca kilang Indonesia defisit 60%. Bahkan produksi premium mengalami defisit mencapai 70%, diprediksi tahun 2018-2020 defisit bisa mencapai 80%. Singapura saja yang meski tidak memiliki sumber minyak akan tetapi berani membangun kilang dan kini mengambil keuntungan dengan menjadi pemasok BBM bagi negara-negara disekitarnya. Lantas apakah kita akan diam saja dan terus menerus tergantung pada negara lain, mengimpor minyak dari Singapura? Tentu tidak.

Membangun kilang baru memang tidak mudah. Butuh modal besar (US$ 9 miliar-US$ 10 miliar), perhitungan pengembalian modal yang cukup panjang karena profit margin kecil. Selain itu juga harus ada jaminan pasokan crude oil setidaknya untuk 30 tahun. Sedangkan untuk modernisasi kilang, setidaknya terdapat 4 aspek yang harus diperhatikan, yaitu keandalan (reliability), menguntungkan (profitable), bertumbuh (growth) dan berkelanjutan (sustainability). Modernisasi kilang tidak hanya dilihat dari sisi kompleksitas kilang, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi pengoperasian, terintegrasi dengan petrokimia, serta fleksibel.

Berbagai upaya dilakukan Pertamina untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi kilang, antara lain proyek refurbishment Plaju, proyek Blue Sky Kilang Cilacap, Bottom-upgrading Kilang Balikpapan, revamping Kilang Dumai, dan pembangunan Kilang Balongan II. Selain itu, Indonesia juga berencana membangun 3 kilang baru dengan kapasitas 300 ribu bph. Dalam hal ini, Pertamina menggandeng Kuwait Petrolium Company (KPC) dan Saudi Aramco Asia Company Limited (SAAC), sedangkan satu kilang lagi akan dibangun sendiri dengan anggaran dana dari APBN sebesar Rp 90 triliun. Iya, dengan dana subsidi BBM sebesar Rp 300 triliun sebenarnya Indonesia bisa membangun 3 buah kilang.

Sayangnya proyek-proyek ini sering kali terganjal alasan keekonomian. Bisnis kilang di Indonesia dinilai memiliki margin yang sangat kecil sehingga butuh IRR yang tepat agar secara ekonomi proyek tersebut bisa berjalan. Pola pikir pembangunan kilang yang hanya melihat dari sisi ekonomi saja adalah pola pikir yang kurang tepat karena pasti akan menganggap mengimpor akan lebih murah. Kita harus berpikir ke depan, yang mana modernisasi kilang menjadi hal yang penting, tidak hanya untuk memenuhi kekurangan produksi tetapi juga untuk menjamin ketahanan energi karena mengimpor bukanlah solusi.

Integrasi bisnis kilang dengan industri turunan seperti petrokimia bisa jadi pilihan untuk profit yang lebih baik. Konfigurasi kilang yang mengintegrasikan produk minyak dengan petrokimia selain untuk meningkatkan keekonomian kilang juga untuk menekan impor karena selama ini Indonesia mengimpor produk BBM dan petrokimia dalam jumlah yang cukup besar. Pemberian insentif juga harus dipertimbangkan secara tepat. Keseriusan pembangunan kilang sangat dibutuhkan atau kita hanya akan terus-menerus mengimpor BBM.


0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer