Breaking News
Loading...
Sunday, May 4, 2014

Batubara Masih Jadi Pilihan Realistis

2:24:00 AM

FORGI - Indonesia adalah negara berkembang, ekonominya sedang tumbuh. Tentunya butuh pasokan energi yang "cukup" dan "murah" untuk menyokong pertumbuhan ekonomi tersebut. Energi yang murah ya fosil. Jangan dulu samakan Indonesia dengan negara-negara maju yang ekonominya jelas mereka lebih unggul. Jadi tidak masalah mereka menggunakan green energy meski harganya lebih mahal. Sementara kita di sini masih tetap butuh fosil. Memang green energy harus dikembangkan dari sekarang, tetapi energi fosil porsinya tetap akan cukup besar, setidaknya untuk beberapa tahun mendatang.

Penambangan Batubara (livemint.com)

Berikut ini uraian di laman migasreview.com mengenai penggunaan batubara sebagai sumber energi yang masih menjadi pilihan realistis bagi Indonesia.

"Batubara Masih Jadi Pilihan Realistis" 

Meski batubara disebut-sebut sebagai energi kotor yang kadar pencemarannya sangat tinggi, komoditas itu dinilai masih menjadi sumber energi yang paling realistis buat Indonesia. Pasalnya, selain memiliki cadangan yang sangat besar, 27 miliar ton, batubara adalah energi yang murah. Selain itu, Indonesia masih sangat membutuhkan energi murah untuk melistriki banyak wilayahnya. Rasio elektrifikasi yang besar menjadi syarat pertumbuhan ekonomi nasional yang kuat.

Ketika kampanye energi bersih terus digaungkan di seluruh dunia, Indonesia menuai kritikan karena sebagian besar pembangkit listriknya masih menggunakan batubara. Yang menjadi pertanyaan, haruskah pertumbuhan ekonomi Indonesia mengorbankan lingkungan? Atau, haruskah kelestarian lingkungan mengorbankan pertumbuhan ekonomi? Atau, bisakah pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan berjalan bersama?

Pengamat energi, mineral, dan pertambangan Budi Santoso mengatakan, desakan Greenpeace agar Indonesia menghentikan penggunaan batubara akan kontra-produktif bagi pertumbuhan ekonomi. Budi mengatakan, pemerintah harus terus menggalakkan penggunaan batubara di lingkup domestik. Pasalnya, batubara merupakan energi murah yang mampu dihasilkan secara mandiri oleh Indonesia.

“Jujur saja, saya tidak setuju dengan kritik Greenpeace yang menyebut batubara sebagai energi kotor. Mereka itu memang cenderung apriori. Apa mereka tahu kalau PLTU batubara sekarang canggih dan mampu mengurangi emisi secara signifikan? Asap, abu, dan sulfur dioksida sudah rendah. Tinggal CO2 yang pasti dihasilkan, dan itu masih mampu diserap oleh pohon yang kita miliki di Indonesia,”ujar Budi kepada Migas Review.

Ketua Umum APBI Bob Kamandanu menyebut, Greenpeace selalu bersikap negatif kalau soal pertambangan. Bob mencontohkan apa yang bisa dilakukan pertambangan batubara bagi perekonomian.

“China dengan populasi lima kali lipat dari Indonesia, sekarang memiliki rasio elektrifikasi 25 kali lipat daripada Indonesia. Artinya apa? Mereka menggunakan batubara semua kan? Kalau kami diberhentikan untuk tidak eksplorasi batubara sebelum kita menuju level seperti China, berarti kami dibunuh sebelum berkembang. Saya nggak mau dengerin mereka,” jelas Bob.

Sebelumnya, Greenpeace menyebut, industri batubara berkontribusi relatif kecil bagi perekonomian nasional, selain tidak mengangkat kehidupan masyarakat lokal, malah memperparah kemiskinan. Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Arif Fiyanto mengatakan, meskipun terjadi pertumbuhan dramatis selama dekade terakhir, ekspor batubara hanya menyumbang 3 persen dari perekonomian nasional. Penggunaan batubara dalam negeri hanya 1 persen, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) lebih kecil dari manufaktur (27 persen) dan pertanian (16 persen).

“Industri batubara juga sangat sedikit mempekerjakan tenaga kerja. Sebuah studi besar di Kalimantan Selatan, salah satu pusat pertambangan batubara utama di Indonesia, menunjukkan bahwa keseluruhan sektor pertambangan hanya mempekerjakan dua persen dari angkatan kerja di wilayah tersebut,” ujar Arif beberapa waktu lalu.

Studi ini, menurut Arif, juga menemukan bahwa keuntungan ekonomi dari pertambangan batubara menggelontor terutama ke rumah tangga berpendapatan tinggi daripada rumah tangga berpendapatan rendah. Bank Dunia pun akan mulai membatasi pendanaan untuk pembangkit listrik tenaga barubara di negara berkembang, dan fokus pada tenaga gas dan air.

Pilihan Realistis

Penggunaan energi batu bara, menurut Budi, saat ini merupakan pilihan realistis jika melihat kondisi perekonomian nasional dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) yang masih tertatih-tatih.

“Kalau mengampanyekan pemakaian EBT itu, istiahnya seperti gagah-gagahan saja. EBT kan masih mahal sekali, tidak terjangkau oleh rakyat. Sekarang, baru dicabut susbsidi BBM saja sudah ribut sekali. Jauh sekali kalau harus menggunakan EBT,”jelas Budi.

Budi merinci hitung-hitungan energi batubara untuk membuktikan energi tersebut terjangkau oleh masyarakat. Ia menyebut, briket dari batubara berkalori rendah berharga Rp700 per kilogram, sudah termasuk ongkos pembuatan. Sedangkan gas Elpiji sampai di tangan masyarakat dengan harga Rp4 ribu per kilogram.

“Energi dari 3,5 kilogram briket setara dengan 1 kilogram Elpiji.  Artinya, 3,5 kilogram briket dengan harga Rp2.450, bila ditambah ongkos distribusi mungkin bisa menjad sekitar Rp3 ribu. Ini masih lebih murah dari satu kilogram Elpiji,” paparnya.

Selain harga dasarnya yang lebih murah, ongkos distribusi briket juga sangat terjangkau karena tidak memerlukan kemasan khusus layaknya elpiji. Transportasinya pun bisa menggunakan truk biasa. Selain itu, kompor briket berharga murah, bahkan bisa dibuat sendiri, misalnya dengan tumpukan batu bata. Bila menggunakan Elpiji, masyarakat tentu memerlukan kompor, tabung gas, dan selang regulator yang harganya cukup mahal.

“Mengapa penggunaan briket tidak populer dan digalakan oleh pemerintah? Mungkin karena murah dan mudah, jadi tidak ada yang bisa dikorupsi. Beda halnya dengan Elpiji yang banyak komponennya. Masing-masing komponen bisa di-mark up,” kritiknya.

Menurut Bob, yang harus diberantas di bisnis batubara adalah para penambang batubara yang tidak menjalankan best practice.

“Kami mengeduk tapi menanam lagi. Kecuali kalau meninggalkan bolong-bolong. Jangankan Greenpeace, kami juga marah-marah kok kalau ada penambangan yang ditinggalkan bolong-bolong,” jelas Bob.

Budi menambahkan, China yang digadang-gadang mengurangi penggunaan batubara saja, masih gencar menggunakan briket dari batubara berkalori rendah untuk energi murah, sekitar 500 juta ton per tahun. Sedangkan Indonesia sendiri menggunakan energi batubara tidak sampai 100 juta ton.

Padahal, bumi kita menyimpan batubara yang sangat besar untuk konsumsi dalam negeri. Menurut data Dewan Energi Nasional (DEN), dalam Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang Target Bauran Energi Nasional, pada 2025, batubara akan menguasai 33 persen dari total, naik dari 15,34 persen pada 2006. Sementara itu, gas dan gas methana baru bara (CBM) akan mencapai 31 persen. Pemakaian gas pada 2006 sebesar 28,5 persen sementara saat itu CBM belum diproduksikan.

Untuk geothermal yang hanya 1,32 persen dan tenaga air yang 3,11 persen pada 2006, dalam target bauran energi 2025, porsi energi terbarukan akan naik jadi 16 persen. Bauran energi itu adalah untuk pemakaian energi secara keseluruhan, termasuk untuk pembangkit listrik. Tapi angka yang cukup fantastis adalah penggunaan batu bara. Sayangnya, kata Budi, pemerintah belum cukup giat mengupayakan penggunaan energi batubara padahal penghematannya sangat signifikan.

“Nah, kalau sekarang penggunaan batubara yang jelas-jelas harusnya 30 persen malah dihalang-halangi sebelum tercapai, kan itu namanya pembodohan. Hati-hati, bisa saja ini konspirasi internasional,”kata Budi.

Budi juga tak setuju kalau batubara diekspor. Pasalnya, Indonesia mengekspor batu bara, namun malah mengimpor minyak dan gas.

“Hitungannya, dengan jumlah kalori yang sama (yang dihasilkan batu bara dibanding minyak dan gas), kita malah defisit. Jadi solusinya adalah kita gunakan batu bara untuk kebutuhan domestik saja. Ini tentu butuh campur tangan pemerintah untuk menggalakannya,” kata Budi.

Namun Direktur Pusat Kerjasama Minyak dan Gas Bumi Universitas Trisakti Agus Guntoro mengatakan bahwa konsep bauran energi Indonesia tidak realistis.“Pada saat dunia dunia sedang gencar-gencarnya menentang polusi dari batubara, kita malah menambah. Jadi menurut saya, ini tidak realistis,” kata Agus.

Tidak Adil

Menurut pengamat energi dari Surya University Darmawan Prasodjo, kecenderungan negara maju menekan negara berkembang untuk tidak menggunakan energi batubara akan membuat percepatan pertumbuhan ekonomi tidak secepat yang diharapkan. Selain itu, kata dia, tidak adil bagi negara berkembang ketika harus mengejar ketertinggalannya dari negara maju, tidak boleh menggunakan batubara.

“Negara maju sebelum maju seperti itu, apa yang mereka pakai? Batubara. Sekarang pertanyaannya, yang tidak adil itu siapa?” kata Darmawan. 


0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer