Breaking News
Loading...
Thursday, November 14, 2013

Bioenergi Bakal Jadi Primadona

10:35:00 AM
DEN - Sumber energi dari tanaman pangan, meski mahal harganya, lebih menguntungkan karena selain ramah lingkungan, juga turut menggerakkan perekonomian nasional PENGEMBANGAN sumber daya energi dari tanaman pangan (bahan bakar nabati/BBN) bakal diutamakan.

Dewan Energi Nasional (DEN) memandang pemanfaatan nabati sebagai sumber energi yang penting dan bernilai strategis dalam meningkatkan ketahanan energi nasional.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik, jika dibandingkan dengan sumber energi fosil, sumber energi dari tanaman pangan memiliki multiplier effect yang lebih luas. Selain ramah lingkungan karena kandungan karbonnya yang kecil, BBN juga dapat turut meningkatkan kesejahteraan petani kecil.

“Itu kan lapangan kerja. Yang nanam petani dan yang kurang mampu. Propoor-nya dapat, turut mengentaskan rakyat dari kemiskinan,” ujar Jero seusai membuka siding DEN ke-11 di Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Jumat (8/10). Dijelaskan Jero, upaya pengembangan BBN sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2006. Produk-produk BBN dimandatkan untuk memenuhi 10% kebutuhan energi nasional untuk konsumsi.

Meskipun harganya tergolong lebih mahal, lanjut Jero, BBN lebih menguntungkan karena tidak diimpor. Dengan berorientasi pada pasar domestik, biaya pengembangan BBN beredar di dalam negeri dan dapat turut menggerakkan perekonomian nasional.

“Kalau untuk BBN, saya excuse. Itu produksi kita, kok. Pertamina tender saja. Asal udah cocok, kasih saja. Kalau mahal-mahal sedikit di awal enggak masalah,” ujar Jero yang juga Ketua Harian DEN itu.

Dalam Sidang ke-11 DEN, Mentan Suswono mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah langkah untuk mendukung pengembangan BBN. Untuk jangka pendek, Kementan terus mengintensifikasikan pengembangan BBN dari komoditas yang sudah ditanam secara luas semisal kelapa sawit, kelapa, sagu, tebu, dan ubi kayu.

“Untuk jangka menengah, pengkajian dan pengembangan komoditas potensial  enghasil bioenergi seperti kemiri sunan, jarak pagar, nyamplung, aren, dan nipah terus dilakukan.

Sementara untuk jangka panjang, kita mulai menyiapkan pemanfaatan biomassa limbah pertanian sebagai sumber energi,” ujarnya.

Sesuai dengan Inpres No 1 Tahun 2006, Kementan bertugas menyediakan tanaman bahan baku BBN, melakukan penyuluhan pengembangan tanaman BBN, menyediakan benih dan bibit tanaman BBN serta mengintegrasikan kegiatan pengembangan dan kegiatan pascapanen tanaman BBN.

“Untuk itu kami juga telah mengembangkan perkebunan energi terintegrasi, yakni konsep yang menghubungkan kegiatan on farm dan pengolahan dalam satu wilayah (hulu-hilir) terintegrasi dalam sebuah rantai nilai,” jelasnya.

Dalam paket kebijakan ekonomi yang dirilis Agustus lalu, produksi biodiesel ditargetkan mencapai 100 ribu barel per hari. Menurut Mentan, dibutuhkan 5,6 juta kl CPO per tahun atau setara dengan 30% total ekspor nasional. Volume ekspor CPO Indonesia pada periode Januari-Juli 2013 mencapai 11,34 juta ton. “Untuk biodiesel, produksi CPO kita cukup untuk memenuhi target,” tuturnya.

Sementara untuk produksi bioetanol, menurut Suswono, terutama akan dihasilkan dari molases tebu. Pasalnya, tanaman bahan baku BBN lainnya semisal ubi kayu dan sagu masih terkendala sejumlah masalah. “Untuk ubi kayu perlu perluasan areal tanam sementara untuk sagu perlu dukungan infrastruktur untuk meningkatkan aksesibilitas,” terangnya.

Ketersediaan lahan Kendala lain yang menghambat pengembangan BBN, yakni ketersediaan lahan untuk mendukung perkebunan energy terintegrasi, tidak adanya jaminan pasar dan harga ekonomi bahan baku BBN, dan kejelasan dalam insentif.

“Misalnya dalam penggunaan lahan bekas tambang, dari potensi seluas 13 ribu hektare (ha), hanya 600 hektare yang cocok untuk dipakai sebagai lahan pertanian,” ujar  Suswono.

Terkait pencampuran biodiesel pada solar, anggota DEN Mukhtasor mengatakan pemanfaatannya belum maksimal. Menurut catatan DEN, pada 2013 kapasitas terpasang biodiesel mencapai 4.600.000 kl sedangkan yang dimandatkan pemerintah hanya sekitar 2.017.000 kl.

“Kapasitasnya sudah bagus, tapi karena satu dan lain hal realisasinya belum sesuai dengan mandat,” ujarnya.

Kendala lainnya yang muncul, yakni terkait bioetanol. Sejak 2010, produksi bioetanol tersendat karena izin produksinya masih sama dengan perizinan alkohol untuk minuman keras. “Makanya produsen banyak yang takut. Ini juga harus segera dibenahi,” cetusnya.

Terkait keterbatasan lahan, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DEN Hadi Purnomo mengatakan, peningkatan efisiensi alat-alat produksi bisa menjadi solusi.

“Misalnya teknologi pengolahannya diperbaiki sehingga hasilnya bisa meningkat. Menambah luas lahan produksi mungkin memang perlu, tapi tidak harus selalu menjadi solusi paling utama,” ujarnya.
 
 
Sumber : den.go.id

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer