Breaking News
Loading...
Thursday, October 24, 2013

Tenaga Mikrohidro untuk Desa Mandiri Energi

7:55:00 AM

Beranda MITI - Sampai saat ini masih banyak daerah di Indonesia yang belum dialiri listrik. Terutama untuk daerah-daerah terpencil yang berada jauh dari perkotaan atau berada di pegunungan. Padahal sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk diubah menjadi energi listrik sangat melimpah, salah satunya adalah tenaga air.

Air di Indonesia saat ini baru dimanfaatkan sebesar 4,2 Giga Watt atau sekitar 5,55% dari jumlah total yang dapat dimanfaatkan sebesar 75,67 Giga Watt (Suwignyo dan Suhardi, 2012). Pemanfaatan yang baru sedikit itu sangat disayangkan mengingat jumlah daerah yang cukup banyak di Indonesia ini yang belum dialiri listrik. Hal tersebut tidak lepas dari peran pemerintah sebagai pelaksana pemerintahan untuk mengutamakan kesejahteraan rakyat.

Ada banyak teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi sumber energi listrik di daerah-daerah terpencil yang sampai saat ini masih diabaikan. Salah satunya adalah pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrihidro (PLTMH) sebagai sumber listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrihidro (PLTMH) adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan aliran air sebagai sumber penghasil energi. Seperti namanya, PLTMH hanya menghasilkan energi listrik skala kecil, yaitu kurang dari 200 kW. Namun, PLTMH juga memiliki konstruksi yang sederhana, mudah pengoprasiannya dan yang terpenting secara ekonomis relatif murah.

Prinsip dasar PLTMH ini adalah memanfaatkan beda ketinggian dan jumlah debit air per detik yang ada pada saluran irigasi, air terjun, ataupun sungai yang dibendung. Aliran air ini akan memutar poros pada turbin dan menghasilkan energi mekanik. Kemudian energi mekanik inilah yang akan menggerakan generator dan menghasilkan energi listrik (Damastuti, 1997).

Damastuti (1997) menyebutkan untuk membuat bangunan PLTMH yang pertama kali dibutuhkan adalah membuat bendungan untuk mengatur aliran air yang akan digunakan sebagai sumber penggerak. Pada sekitar bendungan juga perlu dibangun bangunan pengambilan (intake) dan juga bangunan penghantar untuk mengalirkan air dari intake. Kemudian, diperlukan dibangun saluran pelimpah untuk membuang air yang berlebih dan kolam pengendap pasir agar air yang masuk ke turbin bersih dari kotoran.

Kolam penenang juga diperlukan untuk dibangun agar dapat menenangkan air yang akan masuk ke turbin dan mengarahkannya masuk ke pipa pesat. Pipa pesat ini berfungsi untuk mengalirkan air masuk ke turbin, sehingga terjadi perubahan energi dari energi potensial di kolam penenang menjadi energi kinetik untuk memutar turbin. Setelah dari saluran pesat, air akan masuk pada turbin pada bagian inlet. Pada inlet terdapat guided vane untuk mengatur pembukaan dan penutupan turbin dan mengatur jumlah air yang akan masuk ke runner/blade. Bagian runner inilah yang akan menghasilkan energi kinetik untuk memutar poros pada turbin dan menggerakkan generator.

Generator yang digunakan adalah generator sinkron dan generator induksi. Sistem transmisinya yang digunakan berupa sistem transmisi langsung. Daya poros yang dihasilkan dari system ini langsung dihubungkan ke poros generator dengan kopling dan transmisi tidak langsung menggunakan flat belt untuk skala besar. Sedangkan untuk untuk skala di bawah 20 kW menggunakan v-belt.

Listrik yang dihasilkan generator tersebut dapat langsung ditransmisikan ke rumah-rumah. Untuk penghitungan daya potensi yang dihasilkan dapat menggunakan rumus: P = 9,8. Q. H. ƞ, dimana 9,8 merupakan kostanta gravitasi (m/detik2), P adalah daya (kW), Q adalah debit (m3/detik), H adalah tinggi terjun efektif (m), dan ƞ adalah efisiensi kerja (%). Misalnya jika di suatu sungai diketahui data debitnya sebesar 1,00 m3/detik, tinggi terjun efektif sebesar 1,5 meter dan efisiensinya sebesar 85%, maka akan diperoleh daya potensial yang dapat dibangkitkan sebesar 12,5 kWatt.

Selain dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik untuk rumah-rumah, PLTMH juga dapat dimanfaatkan pada program elektrifikasi pertanian, dengan memanfaatkan saluran irigasi sebagai sumber aliran. Mendominasinya mesin-mesin pertanian yang selama ini menggunakan bahan bakar dalam pengoperasiannya dirasa akan membutuhkan biaya produksi yang lebih banyak, mengingat harga bahan bakar yang terus mengalami kenaikan. Elektrifikasi mesin-mesin di bidang pertanian meliputi elektrifikasi mesin-mesin pengolahan lahan seperti traktor pengolahan lahan dan pompa-pompa pengairan. Sedangkan pada pengolahan hasil panen seperti mesin perontok padi, mesin pemipil jagung, ataupun mesin pemarut kelapa.

Sistem elektrifikasi pertanian yang bersumber dari energi listrik teknologi mikrohidro ini akan lebih menguntungkan, karena pengoperasian dan perawatan yang cukup mudah (Matoka dan Mohamad). Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sangat potensial untuk dikembangkan terutama di daerah-daerah terpencil maupun lingkungan pertanian pedesaan.

Untuk menciptakan Desa Mandiri Energi (DME), teknologi mikrohidro ini sangat feasible diterapkan. Selain biaya yang murah, teknologi ini juga mudah pengoperasian dan perawatan, terutama untuk masyarakat di daerah terpencil. Dengan masuknya listrik ke desa-desa kecil, maka perekonomian dan pendidikan pun dapat berkembang dengan baik di desa tersebut.


Sumber : beranda.miti.or.id

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer