Breaking News
Loading...
Saturday, October 5, 2013

Pentingnya Pengembangan Pemanfaatan Gas Domestik

3:59:00 AM
Oleh : Tulus S., Sony I., Latif  A. (Teknik Kimia, 2011)
 
FORGI - Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan energi, dan juga perkembangan ekonomi, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia pun cenderung meningkat tiap tahun. Konsumsi BBM yang terus meningkat tidak diimbangi dengan produksi yang justru cenderung menurun. Konsekuensinya Indonesia mengimpor BBM, lalu disubsidi sehingga bisa kita beli dengan harga yang lebih murah dibandingkan saat membelinya dengan harga internasional.

Total konsumsi BBM Indonesia tahun 2012 sebesar 1,09 juta barel, dengan produksi BBM kilang Indonesia sebesar 615,2 ribu barel dan kekurangannya yaitu sebesar 474,7 ribu barel diimpor dari luar negeri (Ditjen Migas, 2012). 

  
Kuota impor BBM tiap tahunnya semakin meningkat. Hal itu menyebabkan subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah menjadi semakin besar. Pada tahun 2012, realisasi subsidi energi mencapai 306,4 T atau sekitar 151,5% dari yang dianggarkan (Nota Keuangan RAPBN 2013). Nilai tersebut diprediksi akan semakin membengkak dan pada akhirnya dapat membahayakan perekonomian Indonesia.
   
Tahun 2012 Indonesia mengalami defisit ganda (defisit primer dan defisit perdagangan). Ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak tahun 1961. Defisit primer tahun 2013 mencapai  40,1 Triliun dan berpotensi membengkak hingga 66,4 Triliun. Ketergantungan terhadap minyak dan beban subsidi BBM menjadi salah satu penyebab terancamnya perekonomian nasional. Padahal di sisi lain Indonesia memiliki gas yang sangat potensial sebagai substituen minyak bumi. 

Telah ada studi mengenai optimasi investasi infrastruktur gas bumi oleh Tjandranegara (2012) menyatakan substitusi gas berdampak positif terhadap perekonomian, yakni penghematan APBN; menaikkan PDB antara 3,04 – 5,14 %; meningkatkan pertumbuhan PDB 0,21 – 0,37 %; menurunkan pengangguran antara 26,78 – 44,23 %. 

Sebenarnya Indonesia memiliki potensi gas yang cukup besar. Berdasarkan neraca energi fosil Indonesia tahun 2012, minyak memiliki cadangan 7,99 miliar barel dan diperkirakan akan habis 23 tahun lagi. Bandingkan gas dengan cadangan 159,64 TSCF dan baru akan habis 55 tahun lagi. Itu belum termasuk CBM dengan sumber daya sebesar 453 TSCF dan Shale gas sebesar 574 TSCF (KESDM, 2012).

Sayangnya pemanfaatan gas domestik masih terbilang rendah. Meski memiliki cadangan yang cukup besar, namun lebih dari setengah produksi gas diekspor. Tahun 2011, dari total produksi gas bumi sebanyak 53% nya diekspor, sedangkan untuk kebutuhan domestik hanya sebesar 41,2% (Ditjen Migas).

Ada beberapa hal yang menyebabkan minimnya pemanfaatan gas domestik, antara lain keterbatasan Infrastruktur, rendahnya harga gas domestik dan banyaknya gas yang diekspor.

1. Keterbatasan infrastruktur
Ketersediaan infrastruktur sangat penting dalam menunjang pendistribusian gas bumi. Tahun 2012, total panjang ruas pipa transmisi pengangkutan gas bumi (open acces) yang tersedia di wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan adalah 3.762,315 km. Total panjang jaringan pipa distribusi gas bumi wilayah Sumatera adalah 689,08 km dan wilayah Jawa 3.865,462 km (BPH Migas, 2012). Secara umum, pipa yang tersedia baru di Pulau Jawa dan Sumatra. Padahal konsumen gas domestik tersebar di berbagai wilayah.
   

2. Rendahnya harga gas domestik
Harga gas domestik yang terlalu rendah menyebabkan terjadinya disparitas harga. Harga gas domestik sekitar US$ 10 per MMBTU, sedangkan harga gas di pasar dunia sekitar US$ 18 per MMBTU.

3. Banyaknya gas yang diekspor
Kebijakan ekspor gas patut dipertanyakan. Harga gas ekspor memang lebih mahal dibandingkan harga gas domestik, sehingga mengeskpor gas dinilai lebih menguntungkan. Namun di sisi lain Indonesia juga mengimpor BBM yang justru harganya lebih mahal dibandingkan gas, yaitu US$ 24 per MMBTU.

Hal-hal di atas menyebabkan lesunya iklim investasi untuk gas domestik. Padahal Indonesia sangat membutuh investasi untuk pembangunan infrastruktur.

Lambannya Program Konversi ke BBG Sektor Transportasi

Program konversi ke BBG merupakan salah satu proyek nasional untuk diversifikasi bahan bakar yang lebih murah dan ramah lingkungan. Sayangnya hanya menjadi sebuah wacana ketika harga minyak mentah melonjak, tanpa ada keseriusan kelanjutan programnya.

Jika dibandingkan dengan Iran yang memiliki kendaraan BBG hampir 3 juta unit, Indonesia jauh tertinggal dengan hanya memiliki 4.137 unit. Bandingkan juga dengan Thailand yang memiliki sekitar 300 ribu unit, India 1,1 juta unit atau Pakistan yang meski baru memulai proyek ini tahun 1999 namun sudah memiliki kendaraan BBG sekitar 2,8 juta unit (NGV Global, 2011).

 
Tentunya ini sangat disayangkan. Padahal program konversi ke BBG sektor transportasi merupakan salah satu program jitu untuk mengatasi krisis BBM. Dari keseluruhan BBM bersubsidi yang dialokasikan pemerintah, sebanyak 92%-nya terserap untuk sektor transportasi darat (KESDM, 2013). Persentase yang sangat besar! Seandainya saja program konversi ke BBG bisa dijalankan dengan baik, tentunya program ini dapat mereduksi beban subsidi BBM karena gas lebih murah dibandingkan BBM.
Pengembangan pemanfaatan gas domestik merupakan suatu keharusan. Bukan hanya untuk mengatasi masalah krisis BBM dan rapuhnya perekonomian nasional, namun ini juga untuk menjamin ketahanan energi. Kita semua tahu bahwa cadangan minyak kita semakin menipis. Apakah ketika nanti cadangan minyak kita sudah benar-benar habis kita akan mengandalkan impor? Tentu tidak, karena impor BBM bukanlah jawaban untuk menjamin ketahanan energi.  

Untuk itu, pemerintah harus mengembangkan pemanfaatan gas domestik. Pemerintah perlu melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki iklim investasi gas domestik, dimulai dari penetapan regulasi; penetapan harga gas yang lebih kompetitif; untuk kontrak-kontrak migas jangka panjang, harus diiringi dengan pembangunan infrastruktur gas domestik; dan pemerintah juga harus serius menjalankan program konversi ke BBG. Diperlukan kerjasama seluruh stakeholder agar program ini benar-benar bisa berjalan.

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer