Breaking News
Loading...
Thursday, October 24, 2013

Indonesia Timur Menanti LNG Mini

8:03:00 AM
Jurnalmaritim.com - Di tengah tingginya biaya produksi listrik di kawasan Indonesia Timur, #miniLNG dipercaya menjadi solusi untuk memenuhi suplai LNG hingga ke daerah terpencil.

Jamak diketahui biaya produksi listrik di kawasan Indonesia Timur, seperti Sulawesi, Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara saat ini mencapai 2 hingga 5 kali lipat dibandingkan biaya produksi listrik di wilayah Jawa Bali dan Sumatera.

Hal ini terjadi karena masih banyaknya penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel di kawasan tersebut. Sementara itu upaya konversi solar ke BBG juga terkendala karena tidak adanya jaringan pipa gas di kawasan Indonesia Timur.

Sebenarnya, pemanfaatan jaringan pipa gas juga kurang ekonomis karena selain rendahnya kebutuhan gas, yakni berkisar antara 3-30 juta kaki kubik per hari (million metric standars cubic feet per day/MMscfd), pun letak pembangkit-pembangkit listrik yang ada berjauhan dengan sumber gas.

“Tidak seperti Jawa, kontruksi jaringan pipa gas yang ekstensif di Indonesia bagian timur tidak feasible,” kata Vice President Planning and Business Development Direktorat Gas PT Pertamina, Yenni Andayani dalam siaran persnya, April lalu.

Pertamina, kata dia, menilai pembuatan teknologi LNG mini adalah menjadi solusi yang tepat bagi penyediaan LNG di kawasan Timur Indonesia.

Teknologi mini LNG telah memungkinkan dibangunnya rantai pasok LNG untuk mendukung upaya konversi BBM ke BBG pada pembangkit-pembangkit di kawasan Indonesia timur. Rantai pasok LNG berkala mini terdiri dari LNG Plant – Loading Terminal – Mini LNG Shipping - Mini LNG Receiving Terminal – Pembangkit BBG.

“Small scale LNG merupakan solusi paling strategis untuk menjembatani antara kondisi pasokan, permintaan dan kondisi geografis serta jarak antara titik pasokan gas dan titik permintaan di kawasan tersebut,” tutur Yenni kepada Jurnal Maritim melalui telepon awal bulan lalu.

Saat ini, beberapa perusahaan besar yang bergerak dalam bidang minyak dan gas sedang mengembangkan proyek LNG mini. Salah satunya adalah PT Pertadaya Gas, perusahan patungan antara PT Pertamina Gas, anak perusahaan Pertamina, dengan PT Indonesia Power, anak perusahaan PT PLN (Persero). Pertadaya Gas telah memiliki rencana strategis memanfaatkan teknologi mini LNG di kawasan Timur Indonesia.

Sementara itu, PT Shell Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT Perusahaan Gas Negara guna menjajaki potensi pengembangan mini LNG.

Beberapa pembangkit listrik yang akan memanfaatkan teknologi tersebut adalah pembangkit listrik di Maros, Pesanggaran, Tanjung Batu, Batakan, Pomalaa, Sulawesi utara, Halmahera, dan Kupang yang ditargetkan beroperasi pada 2014-2016

“PT Perta Daya Gas akan mengoperasikan tiga LNG mini storage dan regasifikasi gas skala kecil di Pesanggerahan (Bali), Tanjung Batu (Samarinda), Batakan, Pomalaa, Halmahera, Kupang dan Maros (Sulawesi Selatan),” kata Senior Vice President Pertamina Gas and Power, Salis Aprilian seperti dikutip Geo Energi, beberapa waktu lalu.

Peluang Bisnis Transportasi LNG

Salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk kelancaran pasokan LNG dengan model LNG mini adalah infrartuktur penunjangnya. Menurut Huberth D Mailoa, Profesional FPSO Marine Specialist di ConocoPhillips, untuk memasok LNG di kawasan Indonesia Timur diperlukan kapal pengangkut LNG berkala kecil (mini LNG Vessel).

Namun, sebelumnya harus dilakukan survei soal pemodelan alur distribusi untuk mengetahui pola distribusi yang tepat, dari loading terminal hingga receiving terminal.

“Dengan demikian, dapat dipilih skenario distribusi yang paling optimal, yang mencakup biaya transportasi, jumlah muatan per-shipment, estimasi biaya investasi rantai suplai LNG, dan margin harga jual LNG,”ungkapnya

Saat ini, kapal pengangkut mini LNG masih tergolong langka. Untuk ukuran kapal yang sama, biaya pembangunan mini LNG vessel terhitung mahal karena kompleksitasnya yang tinggi.

Meski demikan, hal ini adanya merupakan tantangan bagi Industri perkapalan nasional. Sebab, teknologi mini LNG memungkinkan gas dalam bentuk cair diangkut melalui jalur laut, menggunakan kapal, dalam skala kecil secara ekonomis.

“Di sinilah prospek pengapalan gas skala mini terbuka bagi perusahaan pelayaran nasional,” imbuhnya.

Sementara itu Profesor Marco Andreola, seorang pakar LNG dari Italia, saat memberikan keuntungan menggunakan LNG karena dengan bahan utama terdiri dari metana 80%-99%, maka memiliki emisi jauh lebih bersih dibandingkan dengan bahan bakar fosil lainnya.

Dengan adanya LNG mini, beban pemerintah untuk mensubsidi bahan bakar minyak (BBM) juga akan berkurang karena akan menghemat penggunaan senilai 5,4 miliar dolar Amerika per tahun.

LNG mini tampaknya akan menjadi primadona bisnis baru di kawasan Indonesia Timur. Tak hanya perusahaan besar di bidang migas, tetapi juga perusahaan skala menengah dan kecil dapat menjajal bisnis ini. Sebab, dengan model LNG berskala kecil, biaya yang dibutuhkan juga tidak begitu besar.

Saat ini, para pengusaha tinggal menunggu pemerintah mengeluarkan kebijakan soal LNG mini ini. Kita tunggu saja, apakah LNG mini ini, jika diterapkan, benar-benar bisa menjadi solusi persoalan LNG di Tanah Air.

Karakteristik operasional penting dari segmen kapal relevan untuk LNG propulsi adalah:
- Regular, berulang-ulang dan frekuensi tinggi routing dan perdagangan: rute Voyage harus teratur, berulang-ulang dan dengan frekuensi tinggi memastikan stabil LNG konsumsi bunker.
- Rute Stabil: Stabilitas rute memungkinkan untuk menentukan lokasi yang optimal bunkering.
- Cukup pelayaran "pendek": jarak perjalanan pendek memungkinkan untuk menyeimbangkan tombol trade-off di LNG kapal berbahan bakar antara ruang bakar dan keterbatasan penyimpanan kapal.
- Potensi armada pembaharuan (retrofits / konversi?): Retrofits / mesin konversi atau penggantian / bangunan baru yang ekonomis sesuai untuk kapal routing, kecepatan, operasi skenario. Retrofit / konversi.
- Bahan Bakar pemanfaatan mesin intensif: Sebuah intensitas bahan bakar yang tinggi (kuantitas bahan bakar dibakar di atas jarak) menghasilkan penghematan yang signifikan melalui penggunaan LNG
- Harga LNG (diimpor / diproduksi secara lokal) dan harga perbedaan antara distilat LS konvensional bahan bakar dan LNG
- Ketersediaan LNG / LNG infrastruktur, yaitu: terminal dilengkapi dengan skala kecil bongkar Fasilitas / fasilitas penyimpanan LNG / terminal rias puncak, didirikan transportasi LNG jalan / laut / kereta api, direncanakan fasilitas pengisian bahan bakar di daerah pelabuhan, dll.
- Ketersediaan multi - pengguna akhir dalam kedekatan skenario pengiriman menarik, yaitu: rumah tangga / Pengguna industri yang berpotensi tertarik CLng / NG perdagangan skala menengah kecil dan distribusi.


0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer