Breaking News
Loading...
Sunday, September 15, 2013

Revolusi Shale Ubah Peta Energi-Politik Dunia

1:36:00 AM
MigasReview, Jakarta  –
MigasReview, Jakarta  –
MigasReview, Jakarta – Apa yang disebut revolusi shale, di mana perusahaan-perusahaan minyak dan gas (migas) Amerika Serikat (AS) mengembangkan teknologi pengeboran baru untuk memproduksi migas yang terperangkap dalam batuan serpih, telah mengubah peta geopolitik dan ekonomi dunia, dan tentu saja Asia.

Secara khusus, menurut sebuah studi yang dilakukan ekonom Lee Dae-sik dan dicetak ulang oleh Samsung Economic Research Institute (SERI) di Seoul dan dilansir oleh asiasentinel.com akhir pekan lalu, revolusi shale mengancam status global Rusia. Mengingat Rusia tergantung pada ekspor energi yang berkontribusi pada setengah dari pendapatan pemerintah, naiknya produksi AS memangkas harga dan ekspor sehingga Rusia harus memotong laju produk domestik bruto (PDB) 2013 dari 4,6 persen menjadi 2,4 persen April lalu.

Sementara itu Malaysia, misalnya, meski perekonomiannya lebih terdiversifikasi, sebanyak 40 persen pendapatan pemerintah masih berasal dari migas. Negara ini juga memberi subsidi untuk bensin yang besar kepada konsumen, seperti halnya Indonesia. Korea Selatan, China dan Jepang memiliki ketergantungan yang tinggi pada minyak dari Timur Tengah dengan Korsel 85 persen, China 51 persen dan Jepang 82 persen. Sebagai akibatnya, mereka membayar apa yang disebut ‘premium Asia’ alias US$1-1,5 per barel lebih mahal dari harga di US. Pasokan yang berlimpah bisa mengubah itu.

Pukulan ke Rusia

China, salah satu importir energi terbesar di dunia, memiliki potensi untuk menjadi produsen shale gas terbesar di dunia, dengan cadangan yang diperkirakan lebih besar dari AS. Ada rencana untuk memproduksi 60-80 miliar meter kubik shale gas per tahun mulai 2020.

Akibatnya, sebagai pemasok minyak untuk China sejak lama, Rusia harus menyetujui sebagian besar tuntutan China dalam sebuah negosiasi baru menyangkut pembelian minyak mentah dan gas alam. Rusia juga membuka kembali pembicaraan yang dulu menemui jalan buntu atas sengketa teritorial dan sedang mencoba membujuk Jepang untuk bergabung dalam pembangunan pabrik LNG senilai US$ 50 miliar di Vladivostok.

Berbekal teknologi baru untuk membuka shale gas dan shale oil, AS berhasil menyalip Rusia untuk menjadi produsen gas alam terbesar di dunia. Pada 2020, AS diperkirakan menjadi produsen minyak mentah terkemuka dunia juga. Hal itu, seiring dengan pertumbuhan dramatis dalam sumber energi konvensional yang bisa diproduksi, menunjukkan bahwa mungkin saja semua produsen minyak dan gas tradisional akan menghadapi penurunan harga dan persaingan dalam penjualan.

Rusia selama dua dekade sangat bergantung pada pasar ekspor di terutama di Eropa Barat. Pengaruh Moskow diperkirakan berkurang, selain hilangnya PDB dari ekspor energi, yang selama ini telah memberi negara itu sebuah ‘kemewahan buruk’ karena tidak mau mendiversifikasi ekonominya. Sekarang masalah diperkirakan mulai mendatangi negara ini.

Implikasi ke Asia Tenggara

Meskipun penelitian Lee lebih menyorot Rusia, beberapa negara di Asia Tenggara menghadapi implikasi yang sama-sama mengganggu. Malaysia adalah eksportir gas alam cair terbesar kedua di dunia setelah Qatar seentara Indonesia berada di urutan ketiga. Negara-negara yang memiliki cadangan gas terbukti terbesar pada 2011 adalah Australia, China, Indonesia, Malaysia dan India. Pada akhir 2011, Indonesia mengekspor lebih dari 1 triliun kaki kubik LNG, atau sekitar sembilan persen dari ekspor LNG dunia. Indonesia telah kehilangan pangsa pasar dalam beberapa tahun terakhir dari produsen LNG lain seperti Qatar, Malaysia, Australia, dan Aljazair.

Kolaborasi IOC dan NOC

Studi SERI lain yang dipublikasikan baru-baru, misalnya, mengatakan bahwa Kanada, Meksiko, Kolombia, Argentina, China dan Australia meniru AS untuk berfokus pada eksplorasi tight oil. Shale gas dan shale oil akan memicu dunia energi yang multipolar.

Perusahaan minyak internasional dan milik negara yang terlibat dalam produksi. Sebagai contoh, Exxon Mobil telah menandatangani kesepakatan minyak dengan Rosneft,  perusahaan minyak negara milik Rusia untuk mengeksplorasi tight oil di Rusia. Di Jepang, Sumitomo, Mitsubishi, Mitsui, Itochu dan Marubeni berpartisipasi dalam proyek pengembangan tight oil. Sinopec, sebuah BUMN China berinvestasi di oil sand Kanada sedangkan PetroChina sedang menjajaki minyak berat di Venezuela.

Lonjakan Minyak Non-Konvensional

Pada 2030, menurut SERI,  produksi minyak non-konvensional dunia diperkirakan meningkat menjadi 9,6 juta barel per hari dan menyumbang 10,4 persen dari seluruh produksi minyak, naik dari 3,2 juta barel per hari dan pangsa 3,8 persen pada 2011. Ini berarti pertumbuhan produksi minyak di negara-negara non-OPEC akan meningkat meskipun terjadi penurunan produksi minyak konvensional.

Terlepas dari kenyataan bahwa dunia tiba-tiba dibanjiri oleh bahan bakar fosil dalam jumlah besar, sementara pada saat yang sama, negara-negara besar itu tiba-tiba bersikap serius tentang konservasi, penurunan drastis dalam harga minyak tidak serta merta dapat diharapkan. Butuh biaya lebih dari US$ 70 untuk membawa satu barel minyak non-konvensional dan konvensional ke permukaan bumi. Penurunan harga minyak akan menyusutkan marjin keuntungan dan memicu anjloknya produksi. Dengan demikian, biaya operasi dan kontrol pasokan akan memiliki pijakan yang solid pada harga minyak.

Dunia telah lama gelisah dengan kerusuhan yang terjadi di Timur Tengah dan sikap nasionalisme dari Chavistas di Amerika Latin. Tapi saat ini, menurut SERI, ‘ekuasinya’ tengah berubah. Asia dan Amerika Utara menyumbang 51,5 persen dari total konsumsi minyak dunia, namun pasokan minyak dari sana hanya 22,4 persen. Negara-negara Asia mengimpor 71,4 persen dari kebutuhan minyak mereka dari luar kawasan dan Amerika Utara sebesar 38,4 persen. Pasokan dan permintaan minyak regional sangat seimbang dan ketergantungan pada minyak impor sangat tinggi.

Ketergantungan pada Timteng Menurun

Menurut data SERI, pasokan minyak dari kawasan-kawasan di luar Timur Tengah akan meluas dan ketergantungan pada Timur Tengah akan menurun. Di Amerika Utara, mengingat pengembangan minyak non-konvensional telah meningkatkan sumber daya minyak kawasan dari 12 persen menjadi 37 persen dari total minyak global, ketergantungan pada Timur Tengah kemungkinan akan mereda. Namun negara-negara Asia tidak akan menikmati manfaat langsung karena kurangnya sumber daya minyak.

Meski demikian, menurut SERI, Timur Tengah tetap penting.

“Tingkat ketergantungan Asia pada minyak Timur Tengah akan terpengaruh oleh penawaran negara-negara Asia terhadap para produsen Timur Tengah dan ekspor minyak non-konvensional Amerika Utara. Jika daya tawar harga negara-negara Asia terhadap Timur Tengah naik sehingga harga turun, ketergantungan pada Timur Tengah bisa meningkat lagi,” bunyi laporan  tersebut.

Sementara itu, jika Amerika Utara membanjiri Asia dengan pasokan minyak non-konvensional, ketergantungan Asia pada minyak Timur Tengah bisa menurun.

Tentu saja, seperti ditegaskan SERI, revolusi shale telah mengerem strategi Rusia atas Asia Tengah untuk mengamankan pasar energi Asia. Lonjakan produksi minyak serpih dari AS dan pengurangan impor minyak berarti bahwa produsen minyak Timur Tengah mengalami surplus, sehingga mereka akan mencari jalan ke Asia.

Lebih jauh, Korea telah setuju untuk mengimpor 3,5 juta ton gas alam cair (LNG) dari AS setiap tahunnya selama 20 tahun mulai dari 2017, dan Jepang melakukan hal yang sama sebesar 4,4 juta ton.

Aliansi Produsen Tradisional

Sementara itu, dalam rangka membendung Amerika Utara dalam mencapai kepemimpinan energi baru, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Forum Negara-Negara Pengekspor Gas (GECF), berencana untuk memperkuat aliansi mereka. Upaya penuh sedang dilakukan untuk memperluas kerjasama melalui berbagai cara seperti diplomasi tingkat tinggi dengan para produsen minyak utama di Timur Tengah seperti Arab Saudi, untuk mengontrol pasokan minyak.

Dan, menurut laporan SERI, melalui kerjasama dengan mitra global dalam pengembangan sumber daya, Rusia berusaha untuk menjaga revolusi shale tetap terkontrol. Dalam membangun aliansi ini, Rusia telah mengumpulkan berbagai pengalaman yang sangat dibutuhkan melalui kerjasama dengan Eni, perusahaan energi Italia, EdF dari Prancis, dan BASF dari Jerman, antara lain dengan menentang regulasi Uni Eropa untuk membangun jaringan pipa di Eropa.

Sumber : migasreview.com

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer