Breaking News
Loading...
Saturday, August 24, 2013

Paradoks “Kutukan Sumber Daya Alam”

8:49:00 PM
Oleh : Shofiyyah Taqiyyah (Teknik Kimia, 2012)

FORGI - Pernah mendengar atau membaca tentang “national resources curse” atau “kutukan sumber daya alam”? Kutukan tersebut bukanlah sesuatu yang diturunkan oleh nenek moyang sebuah negeri, yaitu sebuah paradoks yang biasa diberikan oleh para ahli ekonomi barat untuk menggambarkan realita suatu negeri yang kaya raya, terutama dalam sumber daya alam tak terbarukan seperti mineral dan minyak bumi, tetapi pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibandingkan negara yang tidak memiliki banyak kekayaan alam. Tidak salah memang, jika Indonesia akhirnya menjadi sebuah paradoks “kutukan sumber daya alam”.

Pengilangan Minyak Bumi (efinancialnews.com)

Paradoks “kutukan sumber daya alam” ini pada dasarnya tidak muncul begitu saja, tetapi disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya buruknya manajemen sumber daya alam, tingginya angka korupsi, dan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.

Manajemen sumber daya alam di Indonesia sudah diwarnai dengan kepentingan masing-masing sektor dan menimbulkan konflik antar sektor yang ditengarai oleh regulasi setiap sektor yang tidak memiliki keterkaitan antar sektor lainnya, sektor-sektor yang terkait dalam kasus ini seperti sektor kementrian energi dan mineral, kementrian kehutanan, kementrian pertanian, kementrian kelautan dan perikanan, dan lingkungan hidup. Disamping itu, berbagai kasus korupsi di Indonesia tidak henti bermunculan, berdasarkan survey Bribe Payer Index (BPI) 2011 Transparency International, yang dilakukan terhadap 28 negara, menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara keempat terkorup di dunia. Berdasarkan hasil analisis audit BPK tahun 2008-2010 kementrian ESDM menempati urutan ke-5 dari 10 lembaga yang berpotensi terkorup di Indonesia.

Paradoks tersebut juga muncul karena Indonesia terutama dalam soal energi masih terlalu bergantung terhadap luar negeri, padahal pada tahun 2015 nanti, kemerdekaan Indonesia sudah berumur 70 tahun. Namun, Indonesia masih terus dikendalikan oleh berbagai pihak dan belum mampu mandiri terutama dalam memenuhi kebutuhan energi negerinya.

Sudah seharusnya Indonesia segera bangkit dan menghapus mimpi buruk “kutukan sumber daya alam” ini. Kemandirian Indonesia terutama dalam soal energi, harus dibarengi oleh inovasi dari segi sumber daya manusianya agar mampu mengolah sumber energi yang begitu melimpah di Indonesia dan agar Indonesia tidak terus dijajah dan dikuasai pihak asing.

Menghapus mimpi buruk “kutukan sumber daya alam” bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan sendiri, kedaulatan energi Indonesia mungkin hanyalah sebuah mimpi jika hanya dituliskan tanpa sebuah perwujudan dan langkah kerja yang nyata.


0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer