Breaking News
Loading...
Thursday, July 18, 2013

Nuklir Harus Dikembangkan

8:33:00 AM
Pemanfatan nuklir sebagai energi alternatif nyaris tidak bergaung. Pemerintah seolah tidak mau menyentuh energi ini dan menempatkannya sebagai pilihan terakhir. Ketakutan akan bahaya radiasi nuklir seolah-olah menjadi momok yang begitu menakutkan.

Bayangan kasus Chernobyl dan Fukushima membuat energi ini dianaktirikan. Padahal, berbagai pandangan menyebutkan bahwa energi nuklir akan lebih dari cukup untuk menutup kebutuhan energi Indonesia. Energi baru dan terbarukan (EBT) non-nuklir dinilai tidak akan cukup memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus bertambah sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah populasi.

Dr. Tumiran, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) yang juga dekan Fakultas Teknik Universitas  Gajah Mada (UGM), mengatakan bahwa sebagai negara berkembang, nuklir harus dikembangkan. Pandangan ini sebenarnya sedikit berbeda dengan kebijakan pemerintah dan anggota DEN lainnya, Herman Darnel Ibrahim, yang menyatakan bahwa nuklir adalah pilihan terakhir untuk dikembangkan.

Berikut penuturan Tumiran kepada MigasReview.com usai sebuah dialog energi nasional di Jakarta pekan lalu.

Nuklir menjadi bahan perdebatan yang lumayan serius dalam hal pemanfaatan energi alternatif selama diskusi tadi. Bagaimana menurut Anda?

Ya, itu jadi perdebatan. Kita sebagai negara berkembang tetap tidak bisa mengabaikannnya. Kalau menurut saya, nuklir harus menjadi opsi. Kita lihat nanti. Dalam ruang pemerintah nanti, kalau jumlah energi kita cukup, nuclear is not a choice. Tapi kalau cukup, kita pakai batubara, kita pakai gas.

Jadi nuklir sebagai pilihan terakhir?

Jadi pilihan terakhir dengan pengertian bahwa kalau itu (sumber energi lain, red) tidak ada, kita lakukan. Tapi kalau memang itu bisa, ya nggak usah dilakukan. Kita lihat nanti. Tapi saya tidak yakin kalau nuklir tidak dibangun. Nuklir harus dibangun.

Misalnya, kita memiliki kebutuhan sekunder energi sebanyak X. Kita buat proyeksi karena kita butuh pembangunan infrastruktur energi demi mendongkrak pembangunan ekonomi. Sekarang, cukup nggak batu bara, gas dan lainnya? Kalau ngggak cukup, ya sudah, nuklir masuk. Energi terbarukan tidak akan bisa menutup secara penuh.

Apakah ada ketakutan jika terjadi hal-hal seperti di Chernobyl dan Fukushima?

Semua teknologi itu mengandung risiko. Berapa orang sih orang yang mati karena nuklir dibandingkan dengan kecelakan mobil atau pesawat terbang? Berapa lingkungan yang rusak karena nuklir dibandingkan banjir?

Dampak Fukushima tidak secara luas. Jadi teknologi nuklir itu sudah proven. Kejadian Fukushima kemarin itu kan bukan karena gempanya tapi akibat tsunaminya. Teknologi ini akan berkembang terus.

Jadi intinya Anda setuju dengan pengembangan energi nuklir?

Ya, setuju dong.

Soal desentralisasi juga menjadi usulan yang mengemuka dalam diskusi tadi. Pendapat Anda?

Desentralisasi energi itu pengamanannya kalau kebijakan energi nasional sudah ditetapkan. Pemerintah akan menyusun yang namanyanya rencana umum energi nasioal (RUEN). Ini merupakan pandangan makro tentang berapa total kebutuhan energi nasional.

Tapi di situ nanti ada zona-zonanya, di mana dan berapa kebutuhan untuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan lain-lain. Kebutuhan itu akan dipenuhi oleh berbagai sumber kebutuhan energi seperti energi fosil, batubara, gas maupun energi terbarukan.

Apa tujuan dari pembuatan zona-zona itu?

Dari zona-zona itu, nanti masing-masing daerah membuat rencana umum energi daerah (RUED) sehingga daerah bisa mengusulkan dan memproyeksikan. Dia butuh berapa? Berapa potensi energinya? Apa dia bisa share kepada kebutuhan energi nasional, atau hanya untuk kebutuhan dia? Atau, dia harus ‘impor’ dari daerah lain? Itu yang akan  muncul dari zona energi tadi.

Misalnya Aceh membutuhkan batubara, tapi dia tidak punya untuk pembangkit tenaga listriknya. Ya, mungkin harus dikirim dari Kalimantan.

Lalu, misalnya lagi, Sumatera bisa menghasilkan biofuel berapa? Aceh berapa? Sementara, DKI Jakarta tidak bisa. DKI akan dipasok dari dua daerah ini. Jadi ini lebih masalah produk berbasis kebutuhan. Kalau dia lebih, dia bisa ‘ekspor’ ke daerah lain.

Apa tujuan dan harapan dari penerapan desentralisasi energi ini?

Harapannya, kekuatan dan ketahanan energi nasional semakin baik. Sehingga, kita tidak tergantung pada impor energi karena bisa dipenuhi dari pasokan nasional.

Sumber : migasreview.com

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer