Breaking News
Loading...
Monday, August 26, 2013

EBT sebagai Energi Masa Depan

7:42:00 AM
Oleh : Tulus Setiawan (Teknik Kimia, 2011)

FORGI - Siang tadi (26/08) Forgi baru saja menghadiri sebuah talk show dengan tema "Peran dan Partisipasi Anak Muda dalam Mempopulerkan dan Mendorong Pemanfaatan Energi Terbarukan". Acara ini merupakan rangkaian dari “Green Competition 2013” yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM, Yayasan Rumah Energi, & Biogas Rumah (organized by: PAMFLET)

Talk show Green Competition 2013
Salah satu yang menarik dari acara tersebut adalah menyoroti pentingnya peran pemuda untuk energi masa depan. Sadar atau tidak, sekarang ini kita berada dalam bayang-bayang krisis energi. Krisis energi merupakan kondisi di mana pasokan energi yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan energi. Akibatnya berbagai aktifitas yang membutuhkan energi tentunya akan terganggu. 

Sebenarnya saat ini pun Indonesia sudah mulai mengalami krisis energi. Minyak termasuk energi fosil. Indonesia saat ini sangat bergantung terhadap minyak sebagai sumber energi, namun di sisi lain produksi minyak kita tidak mampu memenuhi kebutuhan yang ada. Konsumsi BBM Indonesia tahun 2011 sebesar 1,0837 juta bph sedangkan produksi BBM kilang Indonesia hanya 632,5 ribu bph. Untuk mengatasi kekurangan ini, maka Indonesia mengimpor BBM (net oil importer). Namun mengimpor sebenarnya bukanlah solusi, karena suatu saat sumber energi fosil pasti akan habis. Jika tidak ada persiapan untuk beralih ke sumber energi terbarukan, maka hal ini akan menjadi ancaman besar di kemudian hari.

Dalam talkshow tersebut, Bapak Tunggal (sekretaris Dirjen EBTKE) mengatakan bahwa energi terbarukan memang menjadi salah satu concern pemerintah saat ini. Mengingat betapa pentingnya diversifikasi, hal ini tentunya merupakan sebuah keharusan. Banyak potensi-potensi EBT yang bisa dikembangkan seperti geotermal, tenaga air, angin, bioenergi, dan surya.

Geotermal menjadi perhatian khusus. Potensi geotermal Indonesia yang mencapai 40% potensi dunia namun yang dimanfaatkan baru sekitar 4%-nya. Surya juga potensial dikembangkan sebagai solusi untuk daerah-daerah yang tidak terjangkau listrik PLN. Seperti yang kita ketahui, hampir 30% wilayah di Indonesia belum terjangkau listrik PLN, sebagian besar berada di pulau terluar.

Namun yang terpenting adalah bagaimana merealisasikan itu semua. Dalam beberapa kasus, geotermal terkendala perizinan. Dalam UU geotermal masuk dalam kategori pertambangan (padahal sesungguhnya ini kurang tepat), sehingga geotermal tidak bisa dimanfaatkan di daerah hutan konservasi. Bapak Tunggal mengatakan bahwa hal ini juga sudah menjadi salah satu pembahasan di DPR, berkoordinasi dengan kementrian terkait. Ketidaksinkronan kebijakan seperti ini menjadi salah satu penghambat. Belum lagi berbagai konflik sosial, misalnya penolakan-penolakan dari masyarakat lokal seperti yang terjadi di Rajabasa (Lampung) dan Bedugul (Bali). Itu hanya salah satu contoh terhambatnya pengembangan energi terbarukan. Begitupun juga terjadi pada bioenergi, surya, dan lain-lain dengan problemnya masing-masing.

Menurut penuturan Prof. Iwa Garniwa (direktur PEUI), pengembangan pemanfaatan energi terbarukan memang membutuhkan kerjasama dari berbagai stakeholder terkait. Harus disiapkan di semua lini, mulai dari mendorong riset, mendorong industri, dan juga penyiapan kebijakan. Kebijakan energi harus sinergis dengan kebijakan industri dan kebijakan ekonomi.

Sebagai generasi muda, kepedulian energi sangat diperlukan karena ini menyangkut masa depan kita. Jangan sampai kita mengalami krisis di lumbung energi. Untuk itu diperlukan tata kelola energi yang tepat agar kemandirian dan ketahan energi bisa tercapai.

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer