Breaking News
Loading...
Friday, August 16, 2013

Dirjen EBTKE : Sekarang Sampah Jadi Energi

7:35:00 PM
Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) meluncurkan (launching) peraturan menteri energi dan sumber daya mineral (Permen ESDM) nomor 19 tahun 2013 tentang pembelian tenaga listrik oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero) dari pembangkit listrik berbasis sampah kota. (download Permen ESDM Nomor 19 tahun 2013)

"Dengan adanya permen ini kalau kemarin kita sibuk menghabiskan energi untuk sampah sekarang dibalik menghabiskan sampah untuk energi,"ujar Direktur Jenderal EBTKE, Rida Mulyana saat memberikan sambutan di Acara Launching Peraturan Menteri tersebut di Auditorium kantor Ditjen EBTKE, kamis 15 Agustus 2013. Menurut dia, dengan perkembangan teknologi yang semakin berkembang maka sampah bisa dikelola untuk menjadi energi.

Hingga tahun 2012, total kapasitas yang ada pembangkit listrik berbasis biomassa, biogas, dan sampah kota yang telah terhubung pada jaringan PLN (on grid) adalah sebesar 75,5 MW. Salah satu jenis pembangkit listrik biomassa yang dikembangkan adalah pembangkit listrik sampah kota (PLTSa).

Berbagai upaya mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) untuk tenaga listrik on-grid berbasis sampah kota telah dilakukan. Selain kewajiban pembelian tenaga listrik oleh PT PLN  (Persero),  Pemerintah juga menetapkan harga jual listrik (feed in tariff) untuk tenaga listrik berbasis sampah kota. Penentuan harga ini telah didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi pengusahaan yang berkelanjutan dengan memperhatikan keekonomian di sisi pengembang dan juga pembeli (PLN), serta dampaknya terhadap harga listrik/subsidi. Penentuan tarif dilakukan dengan mempertimbangkan biaya pembangkitan, keuntungan dan pajak.

Kebijakan terkait energi baru terbarukan untuk listrik lainnya yang telah dilakukan antara lain berupa pemberian prioritas pengembangan EBT setempat, insentif pajak penghasilan untuk investasi energi terbarukan, pembebasan bea masuk untuk EBT, dan kemudahan prosedur perijinan.

Potensi sampah kota yang dimiliki daerah dengan penduduk padat sangat besar. Sebanyak 6.000 ton perhari sampah kota yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya dibuang dan ditampung di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Saat ini, dengan teknologi landfill gas, sampah kota di TPST Bantar Gebang telah berhasil dikonversi menjadi pembangkit listrik dengan kapasitas 12,5 MW.

Apabila menggunakan teknologi sanitary landfill harga yang diberikan sebesar Rp 1.250 per kilowatt hours (kWh), dan Rp 1.450 per kWh apabila menggunakan teknologi zero waste, sehingga terdapat kenaikan sebesar Rp 400 per kWh dari tarif sebelumnya (Permen ESDM No.4/2012). Upaya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral  ini merupakan upaya mensinergikan kepentingan pengelolaan sampah untuk kepentingan energi dan kebersihan kota. Hal ini juga berarti bahwa kita tidak terlarut menghabiskan energi untuk pengelolaan sampah, tetapi menghabiskan sampah untuk dijadikan energi.

 
Toggle Footer