Breaking News
Loading...
Thursday, August 15, 2013

Biogas, Ubah Sampah Jadi Energi

1:32:00 AM
FORGI - Biogas merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang sangat banyak dan sudah dipraktikkan secara sederhana. Biogas merupakan campuran gas yg mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob. 

Pada umumnya, semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas. Namun demikian, hanya bahan organik (padat dan cair) homogen yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Berikut adalah beberapa alternatif yang mungkin dilakukan untuk membuat biogas antara lain,  kotoran dan urin hewan ternak; menyatukan saluran pembuangan di kamar mandi atau WC;  menyatukan limbah industri pemrosesan makanan seperti industri tahu, tempe, ikan pindang, atau brem.

Pembuatan biogas ini sangat tergantung dengan jenis bahan organik yang diproses selain dari parameter-parameter lain seperti temperatur digester, pH, tekanan, dan kelembaban udara. Hal ini dikarenakan jenis bahan akan menentukan perbandingan karbon (C) dan nitrogen (N) atau disebut rasio C/N. Sebamakin banyak jumlah karbon yang ada (rasio C/N membesar), maka potensi pemanfaatannya sebagai biogas semakin baik. Beberapa percobaan yang telah dilakukan oleh ISAT menunjukkan bahwa aktivitas metabolisme dari bakteri metanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8-20.

Proses pembuatannya pun cukup sederhana. Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kedap udara (digester) sehingga bakteri anaerob akan membusukkan  bahan  organik  tersebut yang kemudian menghasilkan gas (disebut biogas). Biogas yang telah terkumpul di dalam digester selanjutnya dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya. Biogas dapat dipergunakan dengan cara yang sama seperti gas-gas mudah terbakar lainnya. Pembakaran biogas dilakukan melalui proses pencampuran dengan sebagian oksigen (O2).

Beberapa fakta yang menarik ialah, nilai kalori dari 1 meter kubik biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu, biogas   sangat cocok  digunakan  sebagai  bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti  minyak  tanah, LPG, butana, batubara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil. Lebih lagi, satu ekor sapi saja dapat menghasilkan 23.59 kg sampai 30 kg kotoran per harinya.

Sementara itu, menurut hasil temuan mahasiswa KKN (1995) dan Penelitian Kecamatan Rawan di Magetan (1995) di desa Plangkrongan, rata-rata di setiap rumah terdapat 1-3 ekor sapi karena memelihara sapi merupakan pekerjaan kedua setelah bertani. Jika setiap harinya rata-rata seekor sapi menghasilkan kotoran sebanyak 30 kg dan terdapat 2.000 ekor lembu, maka setiap hari akan terkumpul 60 ton kotoran (kompascetak.com). Hal ini menunjukan seberapa meruahnya sumber energi alternatif ini, atau, calon limbah pencemar badan air. Kotoran yang menggunung akan terbawa oleh air masuk ke dalam tanah atau sungai yang kemudian mencemari air tanah dan air sungai. Kotoran lembu mengandung racun dan bakteri E. coli yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungannya.

Selain itu, biogas juga memberikan perlawanan  terhadap efek  rumah  kaca melalui 3 cara. Pertama, Biogas memberikan substitusi atau pengganti dari bahan bakar fosil untuk penerangan, kelistrikan, memasak dan pemanasan. Kedua, metana (CH4) yang dihasilkan secara alami oleh kotoran yang menumpuk merupakan gas penyumbang terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih besar dibandingkan CO2. Pembakaran metana pada Biogas mengubahnya menjadi CO2 sehingga mengurangi jumlah metana di udara. Ketiga, dengan lestarinya hutan, maka akan CO2 yang ada di udara akan diserap oleh hutan yang menghasilkan Oksigen yang melawan efek rumah kaca.

Namun demikian, untuk mendapatkan hasil pembakaran yang optimal, perlu dilakukan prakondisi sebelum biogas dibakar yaitu melalui proses pemurnian/penyaringan karena biogas mengandung beberapa gas lain yang tidak  menguntungkan. Sebagai salah satu contoh, kandungan gas hidrogen sulfida yang tinggi yang terdapat dalam biogas jika dicampur dengan oksigen dengan perbandingan 1:20 maka akan menghasilkan gas yang sangat mudah meledak. Tetapi sejauh ini belum pernah dilaporkan terjadinya ledakan pada sistem biogas sederhana. Di samping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman/budidaya pertanian.

Permasalahan lain yang paling utama secara teknis ialah pengumpulan kotoran ternak. Kotoran yang tersebar di padang rumput bukanlah suatu hal yang mudah untuk dikumpulkan. Terlebih lagi, anggapan masyarakat bahwa hal ini merupakan satu hal yang ’najis’ juga menjadi faktor yang menurunkan laju pengembangan teknologi ini.

Kedua permasalahan di atas menyebabkan biogas dari kotoran hewan ini tidak mendapat banyak perhatian dalam tatanan kebijakan energi pemerintah. Pemanfaatannya pun tidak menarik investor karena skalanya cenderung kecil (pengumpulan kotoran dilakukan dalam satu area desa, bukan satu area produksi). Saat ini, beberapa kebijakan mulai mengarah pada pembentukan biogas ini, khususnya dari merang padi dan sisa-sisa pertanian, walaupun penggalakannya belum muncul secara penuh di masyarakat.

-Albert Santoso
 
Toggle Footer