Breaking News
Loading...
Saturday, August 24, 2013

Bahan Bakar Hidrokarbon Pengganti Minyak Bumi

8:28:00 AM
Hampir 100 persen dan selama hampir 100 tahun, dunia mengandalkan minyak bumi sebagai sumber daya energi. Tak heran, penggunaan sumber daya energi hidrokarbon yang besar berimbas pada pengembangan teknologi mengikuti perkembangan sumber daya tersebut. Oleh karena itu, semua teknologi, semua mesin konversi energi dikembangkan untuk menggunakan atau dicocokkan dengan bahan bakar dari hidrokarbon, termasuk bahan bakar minyak (BBM).

Menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI) Tatang Hernas Soerawidjaja, meski minyak bumi hingga abad 22 masih tetap akan ada, kemampuan untuk mengekploitasi dari perut bumi jauh lebih rendah daripada mengonsumsinya. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan energi fosil harus mulai dikurangi atau berhemat memakai BBM.

Mengetahui sulitnya mendapatkan emas hitam, mulailah para ahli energi di dunia mencari sumber daya energi terbarukan yang mirip atau mudah diubah menjadi hidrokarbon. Berikut penjelasan Tatang saat ditemui MigasReview.com di kampus Institut Teknologi Bandung, beberapa waktu lalu.

Kapan sebenarnya mulai terinisiasi pengembangan energi terbarukan?

Mulai awal 2000 memang sudah dipikirkan tentang energi terbarukan. Di dunia, terutama bioenergi sangat diperlukan. Pertama kali inisiasinya oleh Brasil pada 1970-an. Berawal dari pemikiran bahwa sebelum 1970, Brasil merupakan pengimpor minyak yang sangat besar. Pada 1974, presiden Brasil terpilih adalah Ernesto Beckmann Geisel, mantan presiden Petrobras yang juga seorang jenderal. Geisel mengetahui berapa banyak biaya yang dihabiskan untuk mengimpor minyak. Suatu hari pada 1975, dia berkunjung ke sebuah laboratorium milik pemerintahan Brasil, kalau di sini seperti BPPT, yang sedang melakukan penelitian campuran etanol (Gasohol) ke mesin.

Geisel melihat penelitian tersebut itu sebagai jawaban dari permasalahan impor minyak di negaranya, hingga mengatakan ke stafnya, “Batalkan semua agenda pertemuan saya hari ini.” Dia mau berada di laboratorium itu meminta penjelasan dari penelitian tersebut, sehingga rencana kunjungan setengah jam menjadi setengah hari. Dua minggu kemudian, keluarlah dekrit program bensin beralkohol, hingga sekarang Brasil terkenal dengan penggunaan bahan bakar bioetanol meskipun pada 1980-an Petrobras menemukan cadangan minyak lepas pantai yang saat ini melampaui cadangan minyak Indonesia.

Artinya, butuh political will yang memiliki tujuan, mau diapakan energi ini.

Apakah ada energi terbarukan yang bisa menggantikan atau mirip minyak bumi?

Jawabannya ada. Anda tahu apa itu asam lemak? Asam karboksilat rantai panjang terdiri atas unsur C, H dan COOH. Contoh asam palmitat (C15H31COOH). Kalau orang energi bilang, ini hidrokarbon terkontaminasi. Ada 2 cara agar dapat menjadi hidrokarbon. Pertama, tarik CO2 sehingga menjadi C15H32. Kedua, tekan CO2 dengan hidrogen keluar menjadi air (H2O) sehingga berubah menjadi C16H34. Apa ini? Inilah heksadekan, yang merupakan bahan bakar diesel dengan angka oktan 100. Dari mana mendapatkan asam palmitat? Itu merupakan salah satu asam lemak yang paling mudah diperoleh dari tumbuh-tumbuhan famili Palmaceae, seperti kelapa (Cocos nucifera) dan kelapa sawit (Elaeis guineensis).

Jadi kita punya energi terbarukan. Teknologi mengonversi asam lemak menjadi hidrokarbon ini sudah berkembang. Namanya hydrodeoxygenation fatty oil, dan di dunia, pabriknya baru ada lima, termasuk yang mau berjalan di Gresik, meski teknologinya agak berbeda dengan keempat pabrik yang lain. Tiga di antaranya punya Neste Oil, perusahaan migas asal Finlandia, yang terletak satu di Porvoo, Finlandia, satu di Singapura, dan satu lagi di Rotterdam. Kapasitas yang cukup besar yang di Singapura. Bayangkan, kita mengekspor 1 juta ton minyak kelapa sawit untuk diubah menjadi bahan bakar hidrokarbon. Dan yang di Rotterdam, perkiraan saya juga mendapatkan minyak kelapa sawit dari Indonesia.

Sementara kalau mau perbandingan, Pertamina mengimpor minyak mentah 1 juta ton dari Arab untuk memenuhi kilang petrokimia yang sedang dibangun. Ini sudah menunjukkan tanda-tanda ketertinggalan.

Neste Oil dengan pabrik pengubah asam lemak menjadi hidrokarbon itu, menggunakan suplai minyak kelapa sawit dari Indonesia, sedangkan kita masih memikirkan atau mengandalkan minyak mentah dari negara lain. Padahal, energi terbarukan ada di depan mata. Sehingga, dari penerapan teknologi saja kita sudah tertinggal karena masih memikirkan cara mendapatkan sumber minyak, sementara yang lain sudah mulai menerapkan energi dari minyak nabati.

Artinya, teknologi hydrodeoxygenation fatty oil bisa menciptakan bahan bakar dari tumbuh-tumbuhan?

Ini yang saya sebut generasi satu setengah. Berbasis kesadaran bahwa pada minyak-lemak nabati sebenarnya memiliki 85-90 persen hidrokarbon yang relatif mudah dikonversi menjadi biohidrokarbon alias renewable hydrocarbon dan dapat diolah dengan teknologi-teknologi yang sudah mapan diterapkan di kilang-kilang minyak bumi. Kini berkembang kilang-kilang hidrodeoksigenasi minyak-lemak nabati menjadi biohidrokarbon, seperti Neste Oil tadi. Hasil produknya BioHydrofined Diesel (BHD), Bioavtur (Jet Biofuel), Biogasoline, Bioelpiji. Beberapa negara di dunia kini juga mengembangkan semua pohon potensial penghasil minyak-lemak nabati non-pangan. Keanekaragaman hayati Indonesia adalah gudang aneka pohon potensial penghasil minyak-lemak nabati.

Mengapa bioenergi?

Sistem energi dunia harus (dan sedang diupayakan) beralih dari sebuah sistem energi berbasis sumber daya fosil ke sistem energi berbasis sumber daya terbarukan. Sistem energi dunia yang ada sekarang telah dibangun, selama hampir satu abad, dengan berdasar (atau merujuk) pada aneka keunggulan sumber daya fosil. Sumber daya fosil adalah sumber daya bahan bakar. Karena itu, semua teknologi dan mesin pengonversi sumber daya bahan bakar menjadi aneka bahan bakar bermutu tinggi, listrik, kalor, dan sebagainya, kini sudah tersedia. Industri energi sangat butuh sumber daya terbarukan yang langsung sesuai dengan teknologi dan mesin tersebut.

Bioenergi merupakan jembatan transisi vital peralihan sistem energi berbasis sumber daya fosil ke sistem energi berbasis sumber daya terbarukan. Konsumsi bioenergi akan terus membesar. Pada 2050, kontribusinya hampir sama besar dengan jumlah total energi-energi terbarukan lain.
Gambar 1. Perkembangan konsumsi total energi primer di seluruh dunia menurut  Skenario Visi Pembangunan Berkelanjutan dari International Energy Agency (2003)

Di Asia, perkembangan kontribusinya bahkan lebih signifikan

Gambar 2. Perkembangan konsumsi total energi primer di Asia menurut  Skenario Visi Pembangunan Berkelanjutan dari International Energy Agency (2003)

Kenapa harus mulai melakukan transisi?

Ada beberapa tujuan:
  •     Memperkuat keterjaminan pasokan energi (energy security) sambil mengurangi dan akhirnya meredam kebutuhan akan bahan bakar fosil.
  •     Mengembangkan industri sambil menyehatkan neraca pembayaran negara (country’s balance of payment).
  •     Meningkatkan kreasi nilai tambah hasil-hasil industri budidaya.
  •     Membuka lapangan/kesempatan kerja terutama di wilayah-wilayah pedesaan.
  •     Mengurangi toxicity produk-produk dan proses-proses demi peningkatan kesehatan.
  •     Mengurangi pemanasan global (emisi gas-gas rumah kaca).
Anda mengatakan, negara yang potensi sumber dayanya jauh lebih besar dari rata-rata, tidak boleh terbawa arus rata-rata. Maksudnya?

Misal, produksi timah kita terbilang cukup besar di dunia, tapi riset timah diserahkan semua ke asosiasi negara-negara penghasil timah (International Tin Council/ITC) di London. Mereka lakukan riset untuk memenuhi keinginan semua anggota, akibatnya keinginan rata-rata yang disepakati, sehingga yang memiliki sumber besar tidak akan bisa kebutuhan risetnya tidak bisa terpenuhi. Maka seharusnya yang memiliki sumber daya besar harus melakukan riset sendiri, tapi tidak dilakukan. Hingga saat cadangan timah sendiri mulai menipis, mereka mulai kebingungan mau dibuat apalagi. Padahal, dalam kandungan timah masih ada kadar mineral lain. Itulah yang sering jadi pertanyaan, kita memiliki sumber daya alam besar, kenapa harus mengikuti kemauan orang lain?

Oleh karena itu, untuk setiap masalah yang krusial kita harus ngomong yang benarnya bagaimana, dan kebijakan pemerintah harus ada dasar ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), bukan kebijakan dibuat kemudian iptek disuruh mengikutinya. Ini gila!

Saya pernah bertemu dengan seseorang dari National Academic of Science Amerika Serikat (NAS). Dia bercerita mengapa dan bagaimana NAS bisa maju dan berkembang. Presiden AS Abraham Lincoln menegaskan, kebijakan AS harus didasari iptek. Sehingga, perdebatan apapun di AS, mulai dari politik di-backup oleh iptek dengan berbeda pandangan. Tapi kalau di Indonesia, tidak ada perdebatan yang didasari oleh iptek.

Sumber : migasreview.com

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer