Breaking News
Loading...
Thursday, July 4, 2013

Potensi Gas sebagai Substituen Minyak Bumi

10:17:00 AM
Oleh : Tulus S., Sony I., Latif A. (Teknik Kimia, 2011)
 
FORGI - Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan energi, dan juga perkembangan ekonomi, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia pun cenderung meningkat tiap tahun. Pada tahun 2010, konsumsi BBM di Indonesia sudah mencapai 1,3 juta bph sementara produksi BBM dalam negeri hanya sekitar 900 ribu bph (BP 2011). Oleh karena itu, untuk memenuhi kekurangannya harus melakukan impor.

Sebagai negara net oil importer, Indonesia menghadapi berbagai permasalahan yang kompleks terutama berkaitan dengan harga minyak dunia yang fluktuatif dan cenderung naik sehingga pemerintah harus mensubsidi harga minyak domestik. Produksi BBM dalam negeri yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan kuota impor BBM tiap tahunnya juga semakin meningkat. Hal itu menyebabkan subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah menjadi semakin besar. Pada tahun 2012, realisasi subsidi energi (BBM dan listrik) mencapai 306,4 T (211,9 T untuk BBM dan 94,6 T untuk listrik) atau sekitar 151,5% dari yang dianggarkan (Sumber: Nota Keuangan RAPBN 2013). Nilai tersebut diprediksi akan semakin membengkak dan pada akhirnya dapat membahayakan perekonomian Indonesia.

Subsidi BBM memang menjadi dilema. Di satu sisi, subsidi BBM dapat menekan harga-harga barang karena BBM sebagai anchor price, namun di sisi lain subsidi BBM dapat membebani APBN. Selain itu, subsidi BBM yang terlalu besar juga  berdampak pada perilaku konsumtif masyarakat dan membuat program diversifikasi energi, khususnya program konversi ke gas menjadi terhambat.

Salah satu sumber energi yang mampu mensubstitusi BBM adalah gas bumi. Indonesia memiliki potensi cadangan gas bumi yang cukup besar sekitar 334,5 TSCF (KESDM 2012). Cadangan tersebut belum termasuk cadangan gas yang bersumber dari Coal Bed Methane (CBM) sebesar 453,3 TSCF dan Shale Gas sebesar 574,0 TSCF (Dewan Energi Nasional, 2012). Gas bumi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai substituen minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan energi. Sebagai perbandingan, energi sebesar 1 MMBTU (Milion Metric British Termal Unit) yang dihasilkan dari gas bumi memiliki harga sebesar 13 dolar AS, sedangkan 1 MMBTU yang dihasilkan dari BBM seharga 24 dolar AS. Selisih harga tersebut memberikan peluang bagi gas alam menggantikan peran BBM yang diimpor, sehingga mampu mengurangi subsidi BBM.

Natural Gas sebagai sumber energi yang relatif murah dan lebih ramah lingkungan
sumber : www.galpenergia.com


Suatu penelitian mengenai optimasi investasi infrastruktur gas bumi sebagai substituen minyak bumi telah dilakukan oleh Abdul Qoyum Tjandranegara (2012). Penelitian tersebut menggunakan beberapa skenario berbeda mengenai cara substitusi BBM oleh gas bumi. Hasil penelitian ini menunjukkan substitusi BBM oleh gas bumi selain memberikan implikasi penghematan, juga berdampak positif terhadap makroekonomi seperti: menaikkan PDB antara 3,04-5,14%, meningkatkan pertumbuhan PDB antara 0,21-0,37%, serta menurunkan pengangguran antara 26,78-44,23%, dan menaikkan inflasi antara 1-1,75%. Besaran presentase tersebut tergantung pada jumlah substitusi BBM, pengurangan biaya energi dan subsidi yang dialokasikan kembali sebagai investasi, dan harga minyak mentah dunia. Namun, secara umum penggunaan gas bumi sebagai substitusi BBM akan meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia secara signifikan.

Meski sangat menjanjikan, pemanfaatan gas bumi untuk sektor transportasi, industri, serta listrik masih belum optimal karena adanya beberapa kendala. Kendala tersebut antara lain: keterbatasan infrastruktur, rendahnya pasokan gas, dan buruknya iklim investasi. Ketersedian infrastruktur sangat penting dalam menunjang pentransmisian dan pendistribusian gas bumi. Terbatasnya infrastruktur membuat konsumen mengalami kesulitan dalam mengakses gas bumi. Rendahnya akses terhadap gas bumi membuat pasokan gas untuk domestik menjadi rendah. Berdasarkan data pemanfaatan gas bumi tahun 2011, dari total produksi gas bumi sebanyak 53% nya diekspor, sedangkan untuk kebutuhan domestik hanya sebesar 41,2% (Ditjen Migas, 2011). Kendala-kendala tersebut mengakibatkan adanya disparitas antara harga gas untuk domestik dan harga gas untuk ekspor. Saat ini, harga gas domestik US$ 10 per MMBTU, sedangkan harga gas di pasar dunia berkisar 18 per MMBTU. Pada akhirnya, pengembangan pemanfaatan gas bumi kurang optimal karena masih buruknya iklim investasi.

Krisis BBM membuat kebutuhan akan energi menjadi semakin mendesak. Ini merupakan tantangan bersama karena energi berperan penting sebagai penggerak roda pembangunan. Keseriusan pemerintah sangat diperlukan dalam pengembangan pemanfaatan gas sebagai substituen minyak bumi ini.
 
Toggle Footer