Breaking News
Loading...
Monday, July 22, 2013

Perlu Terobosan Pemerintah untuk Tingkatkan Porsi EBT

2:22:00 AM
Saat ini, Indonesia menjadi Negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tangguh di tengah krisis ekonomi global. Dengan total penduduk berkisar 240 juta jiwa, sudah pasti perlu energi ekstra untuk mendukung pertumbuhan ekonomi agar terus stabil. Di sisi lain, energi fosil yang selama ini menjadi tumpuan Indonesia semakin menipis. Padahal, sumber energi itu tidak dapat diperbarui.

Disinilah peran penting sumber energi lain sebagai alternatif, seperti yang berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT) yang bersumber dari energi panas bumi, tenaga surya, biofuel, air, hingga angin.

Ironisnya, hingga sekarang pengembangannya masih terseok-seok. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menyatakan, saat ini saja porsi EBT dalam bauran energi masih 5%, sedangkan sisanya masih didominasi energi fosil, yakni minyak gas dan batu bara.“EBT memang masih kecil, 5%. Malu saya. Padahal potensi geothermal di Indonesia ialah 40% di seluruh dunia. Ini energi hijau yang harus kita dorong,” ujar Jero, seusai Sidang Anggota Ke-10 Dewan Energi Nasional (DEN) di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (15/7). Jero, yang juga selaku Ketua Harian DEN, menuturkan untuk menggenjot pemanfaatan EBT, pemerintah secara tegas sudah mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dan melakukan diversifikasi ke energi alternatif lain, seperti gas, batu bara, dan EBT.

Selain itu, porsi ekspor gas dan batu bara juga dikurangi sehingga porsi gas untuk domestik lebih besar, meski hal itu menuai protes dari negara-negara pengekspor gas dan batu bara Indonesia. “Kalau kita ekspor terus, yang kacau Indonesia. Akhirnya kalau mereka mau tetap impor, harus mau kembangkan EBT di Indonesia. Hal-hal seperti ini yang harus kita jaga, kepentingan nasional tetap nomor satu,” tegasnya. Upaya menggenjot pemanfaatan EBT dilakukan DEN melalui rumusan  Rancangan Kebijakan Energi Nasional(R-KEN). Di situ dirumuskan pemanfaatan EBT ditargetkan mencapai 23% pada 2025 dan semakin meningkat menjadi 30% pada 2050.

Pada kesempatan yang sama, anggota DEN dari kalangan akademisi, Tumiran, menyatakan pengembangan EBT sangat mendesak, paling tidak untuk menyubstitusi sehingga ketergantungan pada minyak semakin berkurang.

Untuk itu, dibutuhkan langkah percepatan, antara lain dengan mulai mengurangi impor BBM dan fokus mengembangkan biofuel. “Diorientasikan untuk dalam negeri, maka industrinya akan tumbuh, daripada subsidi diberikan untuk kepentingan impor,” jelasnya.

Langkah lain, sambungnya, bisa dilakukan dengan memaksimalkan pemanfaatan tenaga surya.

Indonesia memiliki potensi besar lantaran berada pada posisi geografis di daerah ekuator sehingga mendapat sinar matahari lebih lama ketimbang negara subtropis, selama 4-5 jam per hari. “Itu harus didorong supaya solar tumbuh baik di Indonesia.”

Restrukturisasi tariff listrik tenaga surya untuk menarik investor di sector ketenagalistrikan juga diperlukan. Pasalnya, tariff di sektor kelistrikan saat ini belum cukup mendukung pengembangan EBT, terutama sel surya.

Selain itu, imbuh Tumiran, yang menjadi persoalan mendasar dalam pengembangan EBT ialah ketertinggalan infrastruktur energi. Ia mencontohkan Sumatra, yang memilik populasi sekitar 60 juta penduduk, tetapi pasokan listriknya hanya 5 gigawatt. “Industri apa yang bisa tumbuh.

Jadi, infrastruktur harus dipercepat sehingga muncul industri baru dan daya saing akan kuat, tidak seperti sekarang,” cetusnya.

Sumber : den.go.id
 
Toggle Footer