Breaking News
Loading...
Sunday, June 30, 2013

Supply-balance Minyak Indonesia

1:45:00 AM
Tulus Setiawan (Teknik Kimia, 2011)


FORGI - Indonesia merupakan negara net oil importer. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan net oil importer itu?  Mengapa Indonesia termasuk ke dalamnya? Untuk mengetahui lebih lanjut, terlebih dahulu kita tinjau kondisi kekinian di Indonesia.

Lifting minyak
Realisasi lifting minyak April 2013 sebesar 832.000 barel/hari. Pada RAPBN-Perubahan 2013, target lifting minyak ditetapkan sebesar 840.000 barel/hari. Target lifting minyak mentah pada 2014 sebesar 900.000-930.000 barel/hari.

Kontrak bagi hasil
Dalam pelaksanaan eksplorasi migas, negara mempersilahkan kontraktor untuk investasi, akan tetapi jika tidak berhasil maka tidak dibayar. Apabila berhasil, maka seluruh produksinya terlebih dahulu dipotong biaya eksplorasi, setelah itu barulah dilakukan bagi hasil. Pembarayannya pun bukan dengan uang, tetapi dengan minyak yang diperoleh (pemotongan). Biaya eksplorasi akan dibayarkan oleh negara melalui mekanisme cost recovery, yaitu sekitar 20-25%. Setelah itu barulah dilakukan perhitungan bagi hasil, 85% untuk negara & 15% untuk kontraktor.

Perhitungan :
Asumsi produksi 840.000 barel/hari
Jumlah minyak setelah pemotongan cost recovery : 840.000 - (25% x 840.000) = 630.000 barel/hari
Jatah negara (85%) setelah bagi hasil : 85% x 630.000 = 535.500 barel/hari  

Infrastruktur kilang














 Kondisi supply-balance minyak













Setelah mengetahui empat poin di atas, selanjutnya kita bisa meninjau kondisi sebenarnya minyak Indonesia. Berikut ini gambaran perhitungan supply-balance minyak Indonesia :
  • Kapasitas kilang 1,1 jt barel/hari.
  • Produksi 840.000 barel/hari.
  • Karena sistem PSC dari total produksi tersebut yang menjadi milik negara adalah 535.500 barel/hari. Selanjutnya minyak ini dijual ke Pertamina. Harga jual pemerintah ke Pertamina adalah ICP flat.
  • Sisanya adalah bagian kontraktor, mereka bebas menjual kembali ke Pertamina ataupun diekspor.
  • Dari 535.500 barel/hari, yang benar-benar bisa diserap untuk diolah di kilang (dan atau karena alasan lain) hanya 500.000 barel/hari.
  • Dengan kata lain Indonesia juga menjual 35.500 barel/hari untuk ekspor. Minyak mentah yang diekspor adalah minyak yang tidak sesuai dengan spesifikasi kilang di dalam negeri.
  • Dengan alasan margin kilang, total kapasitas operasi kilang hanya 80%, sekitar 800.000 barel/hari.
  • Sehingga untuk mengoperasikan 80% dari total kapasitas kilang itu, dibutuhkan 800,000 - 500,000 = 300,000 barel/hari crude oil import dengan harga pasar.
  • Dari 800.000 bbl/hari minyak yang diolah, yang menjadi BBM saja yaitu 615.200 barel/hari.
  • Kebutuhan BBM domestik sebesar 1.090.000 barel/hari. Jadi pemerintah (melalui) Pertamina harus mengimport BBM sebesar 1.090.000 - 615.200 = 474.700 barel/hari dengan harga pasar.
Keterbatasan produksi minyak, keterbatasan kapasitas kilang, serta tingginya permintaan domestik mengharuskan Indonesia melakukan ekspor dan impor minyak sekaligus. Oleh karena itu, Indonesia  merupakan negara net oil importer.

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer