Breaking News
Loading...
Thursday, June 27, 2013

Skenario Lifting Minyak menuju 1 Juta Bph

10:49:00 PM

Di tengah keprihatinan akan makin menuanya sumur-sumur minyak dan gas (migas) di Indonesia yang berdampak pada penurunan produksi, beberapa waktu lalu pemerintah menghembuskan angin segar dengan pernyataan bahwa ada kemungkinan lifting minyak Indonesia memasuki puncak ketiga setelah pada 1977 dan 1995 mencapai masing-masing 1,631 juta barel per hari dan 1,612 juta barel per hari. Puncak ketiga itu adalah produksi 1 juta barel per hari yang paling cepat dicapai pada Desember 2014. Itu adalah estimasi paling optimistis, yaitu jika Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu bisa mencapai full scale pada Juni 2014 plus tambahan produksi dari Pertamina sebesar 10.000 barel per hari.

Jika itu adalah estimasi paling optimistis, bagamana dengan estimasi yang moderat dan yang tidak terlalu optimistis? Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak Bumi dan Gas (SKK Migas) mengungkapkan skenario low case, middle case dan high case yang di depan rapat kerja dengan Komisi VII DPR-RI beberapa waktu lalu.

“Pada 2014, kita akan mendapatkan suplai minyak yang signifikan dari Lapangan Banyu Urip di Cepu. Namun, sampai dengan 2019 diperkirakan belum ditemukan cadangan lain yang besar. Mudah-mudahan dengan ekslorasi masif sekarang ini, setelah 2020 kita bisa mendapatkan tambahan lapangan minyak baru,” kata Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini.

Untuk memenuhi target yang direncanakan, lifting 2014 bisa dipenuhi oleh baseline yaitu produksi yang dikeluarkan ditambah dengan pengeboran sumur dan services.

“Baseline itu bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Tapi ini adalah kegiatan yang selama ini dilakukan seperti tahun-tahun lalu namun ditambah dengan proyek-proyek yang akan onstream pada 2014, seperti project Banyu Urip jika full scale sudah terjadi,” kata Rudi.

Dengan baseline itu, SKK Migas menggunakan kondisi yang konservatif, yaitu decline rate 3-5 persen setahun. Kemudian, dengan ditambah plan of development (POD) dan put on production (POP), zero decline diharapkan bisa dicapai.

“Barulah setelah tercapai zero decline itu, kita tambah dengan produksi Cepu sehingga tahun depan lebih baik,” kata Rudi.

Proyek POD/POP adalah data terkini proyek-proyek baru berdasarkan POD disetujui yang akan onstream pada 2014 di luar Banyu Urip.

Tiga Skenario

Untuk Blok Cepu, SKK Migas memiliki 3 case yang menjadi dasar. “Apabila kita selesai pada Oktober 2014, di mana itu adalah kondisi terburuknya, maka produksi kita rata-rata bisa 860.000 barel per hari,” kata Rudi.

Namun, apabila bila onstream Cepu bisa dipercepat sampai dengan Agustus 2014 dan Pertamina bisa menghasilkan tambahan produksi melalui enhanced oil recovery (EOR) kira-kira 10.000 barel per hari, produksi bisa mencapai 880.000 bph. Namun, kondisi tertinggi hingga sampai 900.000 bph bisa diraih apabila ternyata proses produksi full scale dari Banyu Urip bisa dipercepat pada Juni 2014 dan Pertamina tetap menyumbang dengan 10.000 bph.

Dari mana datangnya angka-angka itu?

Rudi menuturkan, sejak 2012, produksi Indonesia turun 3-5 persen dan tahun ini diharapkan zero decline. Ini dengan catatan, apabila menggunakan metode yang dilakukan pada tahun lalu, mestinya tahun ini produksi hanya sebesar 780.000 bph.

“Namun Alhamdullilah, kita sudah mulai naik sampai 840.000 bph. Kalau ini tercapai,  artinya effort kita, tambahan dari normal tahun-tahun sebelumnya, adalah kira kira 60.000 bph sendiri. Jadi, 60.000 bph ini kami lakukan tahun ini dan mudah-mudahan terulang pada 2014. Setelah nanti effort-nya sama dan mencapai zero decline, kami masih mendapatkan 3 skenario dari full scale-nya Banyu Urip. Bila selesai Oktober, maka produksi puncak adalah 950.000 bph tapi rata-rata keseluruhan adalah 860.000 bph. Bila mulai Agustus, plus 10.000 bph dari Pertamina, maka produksi topnya akan 975.000 bph namun rata-ratanya akan sampai 880,000 bph. Dan apabila onstream-nya  bisa Juni plus EOR yang dilakukan Pertamina, kita bisa sentuh 998 pada Desember,” kata Rudi seraya menambahkan bahwa angka 1 juta bph itu adalah pembulatan dari 998.000 bph.

Namun apabila itu tidak sesuai rencana, level 1 juta bph itu akan tercapai pada Maret atau April 2015.

“Hanya bergeser. Jadi, siapapun nanti presidennya, siapa menterinya, dan siapapun kepala SKK Migasnya, 1 juta bph tetap tercapai,” kata Rudi.

Namun, apabila rencana yang digarap dengan Pertamina itu tidak terwujud, yang artinya skenario high case pada Juni tidak tterjadi, berarti SKK Migas memakai skenario middle case alias tanpa Pertamina. Dengan demikian, kata Rudi, angka yang diraih berdasarkan skenario itu adalah 860.000 bph.

“Pada penghitungan pendapatan negara tahun depan, kami akan pakai angka 860.000 bph,” kata Rudi.

Prognosa lifting 2014 dibuat dalam 3 kasus berdasarkan kemungkinan waktu onstream Banyu Urip untuk full scale:

  • Low Case: Banyu Urip onstream pada Oktober 2014, didapat 860 MBOPD
  • Middle Case: Banyu Urip onstream Agustus dan Pertamina EP-EOR (+10 MBOPD), didapat 880 MBOPD
  • High Case: Banyu Urip onstream pada Juni 2014 dan program Pertamina EP-EOR (+10.000 MBOPD), didapat 900 MBOPD.

Dukungan Pertamina

Direktur Utama Karen Agustiawan mengatakan, pihaknya melakukan berbagai inisiatif dalam mendukung peningkatan produksi meski diakuinya bahwa Pertamina masih belum bisa sepenuhnya memenuhi harapan rakyat.

“Sebagai national oil company, seharusnya produki kami minimal 30 persen dari produksi nasional,” kata dia.

Dia mengatakan, setiap tahun produksi Pertamina hanya naik 7 persen. “Belum tajam tapi (setidaknya) tidak ada decline. Setiap tahun naik 7 persen. Dengan metode enhanced oil recovery dan improved oil recovery, diharapkan bisa membantu produksi nasional,” kata dia.

Karen menambahkan, pihaknya terus aktif melakukan eksplorasi.

“Harapannya, pada akhir tahun bisa ditemukan 1 atau 2 cadangan untuk menambah produksi,” kata dia.

Bagaimana proyeksi Pertamina untuk IOR dan EOR?

“Yang akan kami lakukan adalah IOR lebih dulu. Dari beberapa lapangan, 4 di antaranya akan dilakukan Pertamina, yaitu Bajubang, Rantau, Tempino, dan Tanjung. Kalau IRR ini disetujui, mulai 1 Juli- Desesember 2013, Pertamina bisa kontribusi penambahan 5.000 bph. Pada 2014, kalau lancar jadi 10.000 bph,” kata dia.

Menurut Karen, masalah yang paling sulit untuk mewujudkan rencana itu adalah custome clearence, pembebasan lahan, dan mobilisasi alat.

“Harus ada pembicaraan antar departemen di mana kesuksesan tergantung pada departemen lain yang bisa mendukung program kita,” kata Karen.


Sumber : migasreview.com

0 komentar:

Post a Comment

 
Toggle Footer